Connect with us

CityView

Kalimas dan Peranannya Sebagai Jalur Perdagangan di Surabaya

Published

on

kalimas pada masa sekarang

Dari sebuah tempat yang tidak berarti di tepi sungai kecil, kelak menjadi Kalimas, Surabaya yang terletak di pesisir pantai Utara Pulau Jawa, Kalimas menjadi pelabuhan penting di jaman Majapahit.

Kemudian pada abad ke-19 karena letak geografisnya yang sangat strategis, Kalimas ditetapkan menjadi pelabuhan utama (sebagai collegting centers) dari rangkaian terakhir pengumpulan hasil bumi di ujung Timur Pulau Jawa, yang ada di daerah pedalaman untuk selanjutnya diekspor ke berbagai daerah di Nusatara khusunya ke Eropa.

Dalam artian, kota-kota pesisir khususnya pantai Utara Pulau Jawa, saat itu menjadi pusat pengumpulan produk-produk atau hasil bumi dari daerah-daerah pedalaman yang nantinya akan dikirim ke berbagai daerah di Jawa maupun luar wilayah Jawa.

Menurut O.W. Woltres dalam buku Perdagangan Awal Indonesia: Satu Kajian Asal Usul Kerajaan Sriwijaya, kota-kota pesisir dekat pantai menjadi tumpuan perdagangan Indonesia zaman dulu.

Hal tersebut sudah terbukti dengan adanya enam kerajaan di Indonesia pada abad ke-5 dan ke-6 yang terletak di selatan Selat Malaka dan di pantai Sumatera tenggara serta di Jawa utara sangat ramai sebagai pusat perdagangan di Indoneisa

Pemukiman di tepi sungai merupakan salah satu ciri khas Kota Surabaya. Sungai yang sejak dulu pada masa kerajaan-kerajaan di Nusantara merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan.

Sungai tidak hanya sebagai sarana transportasi air yang menghubungkan Surabaya dengan kota-kota di Jawa Timur, tetapi menruut Nanang Purwono dalam buku Surabaya Kampung Belanda di Bantaran Jalur perdagangan Kalimas, juga merupakan sumber daya alam yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya secara kultur arek Suroboyo atau wong Jowo sangat dekat dengan sungai dan sulit dipisahkan dengan sungai.

Akibatnya ketika lahan-lahan yang berada di kawasan Surabaya menjadi sesuatu yang sangat mahal dan langka, orang-orang pun melirik daerah bantaran sungai yang memecah Kota Surabaya untuk dijadikan sebagai lahan tempat tinggal.

Kalimas merupakan sungai yang memecah kota Surabaya, keberadaannya sangat penting sebagai jalur transportasi air pada waktu itu.

Sungai Brantas yang bermuara di Mojokerto dan berhulu di Selat Madura, menjadikannya sebagai jalur transportasi bagi daerah-daerah pedalaman yang hendak mengumpulkan komoditi seperti kopi dan rempah-rempah yang akan dikirim ke berbagai daerah-daerah Jawa maupun luar Jawa.

Karena pada waktu itu, jalur sungai merupakan jalur yang dirasa cepat sehingga banyak dari masyarakat pedalaman memanfaatkan jalur sungai ketimbang jalur darat yang belum tertata dan lebih membuang waktu dikarenakan rute yang terlalu berliku-liku.

Sungai Kalimas yang dikenal sekarang, tidaklah sepenting dan seekonomis dulu ketika masyarakat pada masa itu bertumpu dan bergantung kehidupannya pada sungai sebagai sarana transportasi dan kebutuhan domestik sehari-hari.

Pada waktu itu air minum untuk kebutuhan sehari-hari juga diambil dari sungai Kalimas yang tentunya sudah diolah menjadi air minum yang bersih.

Sungai Kalimas yang sekarang sangat berbeda dengan sungai Kalimas pada masa silam.

Baca Juga:

  1. Menyingkap Peranan Sungai dalam Membentuk Peradaban Kuliner Betawi
  2. Limbah di Sungai Bekasi: Bagai Negeri di Atas Awan, Cantik tapi Bau
  3. Kalipait, Sungai Tinggi Asam dari Kawah Gunung Ijen

Memang bila dibandingkan dengan pemanfaatan sungai Kalimas tempo dulu, pemanfaatan sungai di era modern saat ini tidaklah semaksimal dulu.

Sebagai sarana transportasi air, sungai Kalimas benar-benar menjadi jalur utama yang menghubungkan perairan lepas dengan pedalaman pulau.

Melalui sungai inilah transaksi perdagangan dan pertumbuhan ekonomi terdongkrak dan mengalami kemajuan dalam titik puncak perekonomian Surabaya.

Pada masa Belanda, Surabaya dijadikan sebagai daerah penopang kebutuhan ekonomi perdaganganya. Pada masa itu, Belanda membangun kanal atau terusan yang langsung menghubungkan perairan laut dan pusat kota.

Kalimas sungguh menjadi saran trasportasi air yang ramai digunakan. Hilir mudik sampan dan perahu kecil mengangkut barang komoditi berupa rempah-rempah dan ikan-ikan hasil tangkapan nelayan.

Mereka membawa masuk komoditi tersebut ke daerah dalam kota, yang dikenal sebagai Kembang Jepun (daerah pecinan di Surabaya) hingga ke daerah Kayon (sekarang dikenal dengan adanya Surabaya Mall). Semuanya merupakan daerah-derah yang dilewati Kalimas.

Surabaya memiliki keuntungan alami dengan letaknya yang berada di tepi laut dan muara sungai yang besar dan dalam. Posisi ini memberi keuntungan dalam mempermudah akses lalu lintas menuju laut (pelabuhan).

Pangkalan laut atau pelabuhan Surabaya sangat baik dan letaknya sangat terlindungi karena berada didekat Pulau Madura yang secara sederhana melindungi pelabuhan Surabaya dari laut lepas karena masih terhalangi oleh Pulau Madura.

Sehingga, hal tersebut dirasa aman dari Topan. Kalimas sebagai salah satu cabang dari Sungai Brantas memberikan sumbangsih penting bagi lalu lintas menuju jantung kota.

Peranan Kalimas sebagai jalur perdagangan di Surabaya sangat tampak sekali pada saat itu (jaman kolonial), pemanfaatan sungai Kalimas yang dilakukan oleh Belanda sangat maksimal sehingga dapat mendongkrak nilai ekonomi pemerintah Kota Surabaya.

Ketika Surabaya menjadi daerah dagang yang sangat ramai, banyak sekali para pedagang-pedagang yang ingin melakukan transaksi di Surabaya, alhasil banyak kapal-kapal baik dari dalam maupun luar negeri datang ke Surabaya.

Ukuran Kalimas yang tidak cukup lebar membuat kapal-kapal pesiar yang besar tidak bisa masuk lebih dalam ke mulut sungai, sehingga kapal-kapal besar tersebut hanya bisa berlabuh di Selat Madura saja.

Maka untuk membongkar atau memuat barang-barang kargonya, digunakanlah tongkang-tongkang (perahu yang agak besar untuk mengangkut barang dan sebagainya) atau kapal-kapal sekunar (kapal layar bertiang dua).

Setelah tongkang-tongkang dan sekunar itu menerima muatan barang kargo dari laut, maka dengan gesitnya kapal-kapal itu menelusuri Kalimas, hingga mencapai pelabuhan utama yang lokasinya berada di sekitar Jembatan Merah.

Lokasi inilah yang pada waktu itu merupakan pelabuhan tua kota Surabaya serta lokasi tersebut kala itu merupakan jantung Kota Surabaya, di mana pusat kegiatan masyarakat baik itu pemerintahan maupun yang lain, terlebih kegitan perdagangan berada di lokasi sekitar Jembatan Merah.

Perahu-perahu besar yang berasal dari berbagai daerah dan wilayah pada saat itu hanya bisa berlabuh di Kalimas Ujung (selat Madura), kemudian masuk kota dan berlabuh di beberapa tempat seperti di Peneleh, Gemblongan dan Gentengkali serta melewati Jembatan Pѐtѐkan.

Kalimas menjadi simbol sumber kehidupan, di pedalaman sungai mengairi lahan, menyuburkan sawah, menggenangi kolam ikan, menghasilkan panen, memakmurkan desa.

Di samping itu airnya juga disedot oleh perusahaan air dan pabrik-pabrik lainnya, dulu perahu-perahu pengangkut pasir menghilir dari Mojokerto ke Wonokromo dan menurunkan isi angkutan di ”galangan” penjual bahan bangunan sepanjang Gunugsari.

Peranannya tidak hanya dalam bidang perdagangan tapi lebih mendalam lagi menjadi peran sentral bagi kehidupan masyarakat Surabaya. Pada abad ke-19 Surabaya berkembang menjadi pelabuhan pengekspor perkebunan di Jawa Timur.

Gudang-gudang yang didirikan sepanjang sungai Kalimas berderet sampai ke daerah sekitar Jembatan Merah yang membuktikan pentingnya unsur sungai ini untuk pertumbuhan sektor perkebunan di zaman kolonial Belanda93.

Belanda juga banyak membangun jembatan untuk mempermudah proses penurunan barang ketika kapal-kapal kecil yang melintasi Kalimas berhenti di tempat yang dituju.

Barang-barang yang diturunkan bisa langsung dimuat ke gudang-gudang yang berada di pinggiran sungai.

Beberapa rumah bertingkat menghadap ke arah Kalimas dan pelataran yang luas di tepi sungai.

Sementara itu juga dibangun menara pengawas yang juga menghadap ke arah sungai, sehingga segala aktivitas bongkar muat barang dapat dipantau dengan jelas.

Peran sentral dari sungai ini mengharuskan pemerintahan Belanda untuk membangun beberapa sarana dan prasaranan untuk menunjung serta mempermudah kegiatan di Kalimas.

Dengan semakin ramainya Surabaya sebagai Bandar dagang dan pelabuhan transit bagi pedagang-pedangan yang datang dengan menampung kapal-kapal yang tentunya lebih banyak dan besar, sarana pelabuhan yang telah ada dianggap kurang memadai lagi sehingga mengganggu kunjungan kapal-kapal pribumi dan Eropa.

Fasilitas lainnya yang tidak berfungsi normal adalah gudang-gudang, dermaga, dan tempat bongkar muat barang.

Hal ini berkaitan dengan kapal-kapal yang berlabuh di pangkalan laut, sedangkan bongkar muat barang dilakukan dengan menggunakan perahu-perahu kecil.

Dengan kondisi seperti ini mulai ada pemikiran untuk perluasan dan pembangunan pelabuhan Surabaya yang memadai, karena fungsi pelabuhan Surabaya sebagai salah satu pelabuhan terbesar di Jawa yang seharusnya mampu memenuhi kebutuhan penggunanya.

Selanjutnya pada akhir abad ke-19 telah ada usaha untuk membangun pelabuhan Surabaya. Hal ini disebabkan karena kondisi Kalimas yang tidak mampu lagi menampung arus lalu lintas pelayaran, karena adanya pertumbuhan dan peningkatan volume perdagangan, akan tetapi usaha itu mengalami kegagalan.

Selanjutnya dalam jangka waktu yang lama pelabuhan Surabaya belum mengalami perkembangan yang berarti sehingga proses atau jalur perdagangan masih berada di Kalimas.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CityView

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Published

on

Desa Bubakan

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata tukang bakso, membuat profesi itu beberapa hari kebelakangan ini menjadi perbincangan hangat di meda sosial.

“Jadi ketika saya mau punya mantu nih, saya sudah bilang sama anak saya tiga (orang), awas loh kalau nyarinya yang kayak tukang bakso,” ungkap Megawati dalam pidatonya itu.

Hal ini pun langsung menimbulkan beragam reaksi dari para warganet. Mereka geram karena Megawati dianggap tidak simpati dalam melontarkan pernyataannya itu. Sementara itu, ada juga yang menilai itu hanya sebuah gurauan dan tidak mempermasalahkannya.

Berbicara mengenai tukang bakso, diketahui daerah penghasil bakso yang paling populer di Indonesia adalah Wonogiri. Jika kalian berkunjung ke desa Bubakan, Wonogiri akan dapat menyaksikkan kesuksesan para tukang bakso tersebut.

Baca Juga:

  1. Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi Melalui Cagar Buah Condet
  2. Asal-usul Senayan, Tempat Adu Ketangkasan Berkuda yang Kini Jadi Jantung Jakarta
  3. Asal-usul Nama Ancol & Awal Mula Berdirinya di Indonesia

Sebab daerah itu merupakan kampung para tukang bakso wonogiri yang mencari rezeki di tanah rantau. Desa Bubakan pun saat ini dipenuhi dengan rumah mewah layaknya villa yang begitu megah.

Dibandingkan dengan kampung lainnya, kampung ini memang tampil lebih mencolok, seperti yang dimuat dari Tribun Solo. Di mana kalian bakal menemui rumah mewah dengan dua lantai di desa yang keberadaannya cukup pelosok itu.

Rumah mewah ini dapat menjadi bukti betapa suksesnya warga Bubakan di tanah perantauan dalam menjual bakso. Sekretaris Desa Bubakan, Suparto pun membenarkan 70 persen warganya merupakan perantauan.

“Penduduk Desa Bubakan ada sekitar 5 ribu orang, yang tersebar di 10 dusun. Dan mayoritas mereka adalah perantauan,” tuturnya.

Tak ayal jika rumah-rumah megah yang berdiri di desa itu nampak kosong. Hal ini dikarenakan pemiliknya yang meninggalkan rumah tersebut untuk merantau ke kota lain. Mereka biasanya hanya kembali ke desa untuk meronvasi rumah saja, setelah itu kembali lagi mencari nafkah dengan berjualan bakso di tanah rantau.

Di sisi lain, desa ini sebenarnya pada zaman dahulu merupakan desa yang tertinggal. Namun, seorang pengusaha asal Sukoharjo bernama Mbah Joyo mengajak warga desa untuk merantau pada tahun 1980 an. Hingga akhirnya mereka belajar membuat bakso dan jamu yang kemudian mendirikan usaha mereka sendiri-sendiri.

Continue Reading

CityView

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Published

on

ilustrasi gangster

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa kebosanan dengan berjalan-jalan di malam hari dengan teman-teman, saat ini klitih dimaknai sebagai tindakan atau aksi kriminal yang dilakukan oleh para remaja.

Fenomena ini cukup mirip dengan tawuran ataupun aksi begal, yang memakan korban. Begitupula dengan pelakunya, cukup mirip dengan pelaku aksi tawuran maupun begal, yaitu pelajar SMP-SMA.

Para pelaku juga biasanya melakukan klitih atau nglitih secara berkelompok, tidak ada yang melakukannya sendirian. Hal ini yang mendorong mereka untuk melakukan aksi-aksi yang lebih ekstrim seperti melukai orang.

Dalam tahapan perkembangan, masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri serta pembentukan citra diri.

Biasanya mereka akan mencari kelompok-kelompok tertentu yang sesuai dengan minat mereka atau kelompok yang mereka anggap sebagai citra ideal bagi remaja untuk mendapatkan pengakuan.

Jika mereka mendapatkan pengakuan dari teman-teman kelompoknya, maka secara bertahap akan membentuk identitas dan citra mereka.

Hal ini akan membentuk perasaan diterima dalam sebuah kelompok (in-group) yang akan berpengaruh pada pembentukan citra diri.

Sebaliknya jika tidak mendapatkan pengakuan tersebut, mereka akan teralienasi dari kelompok remaja yang mereka anggap ideal (out-group) dan akan berdampak negatif pada pembentukan citra diri.

Dalam kelompok klitih, para remaja ini saling “mendorong” teman-teman kelompoknya untuk mendapatkan pengakuan tersebut.

Fenomena ini juga dapat dilihat dari bagaimana maskulinitas yang selalu disalahartikan sebagai citra ideal laki-laki.

Baca Juga:

  1. Reorganisasi dan Pembangunan Pasar Senen: Upaya Menata Ruang Kota Jakarta
  2. Sabung Ayam: Kebiasaan Aneh Mengadu Ayam ala Indonesia
  3. Menikmati Harmoni Jogja dengan Bersepeda

Masih banyak yang beranggapan bahwa citra masukulin laki-laki identik dengan kekerasan. Jika ingin menyelesaikan masalah antar laki-laki, sering disebut dengan “kita selesaikan secara laki-laki”.

Padahal sebenarnya tidak semua laki-laki memilih menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan tidak semua laki-laki menginginkan penyelesaikan masalah dengan cara kekerasan.

Jika dikaitkan dengan bagaimana para remaja sedang dalam proses pembentukkan citra diri, masing-masing dari mereka pun berusaha untuk membentuk citra ideal maskulinitas yang masih disalahartikan tersebut.

Kebanyakan dari para pelaku klitih menyebutkan bahwa mereka merasa terdorong untuk mendapatkan pengakuan sebagai sekolah atau kelompok yang paling kuat.

Tentu saja jika pemahaman mengenai maskulinitas masih disalahartikan fenomena ini tidak akan berkurang. Sebab, dorongan atau paksaan dari lingkungan dapat menyebabkan remaja laki-laki ini pada akhirnya mengikuti ajakan kelompok mayoritas kareana ketakutannya ketika nanti menjadi korban rundungan. Mereka yang tidak ikut “nglitih” akan dianggap kurang laki-laki dan akan mengalami perundungan.

Hal ini tentunya dapat berdampak pada citra diri remaja laki-laki tersebut. Selain itu, pada dasarnya banyak juga laki-laki yang tidak bisa menunjukkan citra ideal maskulinitas, sehingga mereka dianggap ‘lemah’ oleh orang lain dan bahkan mereka sendiri merasa tertekan karena ‘gagal’ memenuhi tuntutan ideal tersebut.

Sehingga salah satu cara menunjukkan mereka masih punya ‘power’ atau masih bisa disebut sebagai laki-laki, salah satunya lewat kekerasan ataupun mengikuti perkumpulan yang dinilai memiliki “power” sebagai wujud pembuktian dirinya.

Bagaimana mencegah hal-hal seperti ini terjadi lagi di kemudian hari? Saat ini hukuman yang didapatkan oleh para pelaku klitih pun seolah tidak ada efek jera, karena mereka (pelaku) atau bahkan lingkungan beranggapan perilaku ini merupakan kenakalan remaja pada umumnya.

Padahal sebenarnya fenomena ini perlu dibenahi dari akarnya, yaitu citra maskulinitas yang keliru. Selain itu, pendekatan yang menyeluruh, artinya ikut melibatkan lingkungan keluarga, sekolah, dan juga pemerintah perlu dilakukan.

Hal ini tentu saja untuk membantu pelaku dan juga masyarakat lain lebih memahami mengenai kekerasan itu sendiri dan juga masing-masing dari kita bisa lebih menghargai dan menjaga satu sama lain.

Tentunya dengan menyadari betul apa yang sedang terjadi dan memahami bahwa yang terjadi saat ini bukan hanya seolah kenakalan remaja yang ‘salah gaul’. Kita perlu mulai berefleksi mulai dari diri sendiri. 

Caranya sederhana saja, jika ada teman atau kenalan yang ingin bercerita (baik laki-laki ataupun perempuan), tidak perlu kita berkomentar negatif dan menisyaratkan bahwa bercerita merupakan tanda kelemahan yang sering kali diindentikkan dengan perempuan.  

Kita bisa mulai menghindari komentar-komentar yang berbau seksis terlebih dahulu lalu menularkan atau menurunkannya ke anak anak kita atau lingkungan kita.

Lalu ikut libatkan laki-laki untuk menurunkan angka kekerasan dan kejadian-kejadian seperti ini. Laki-laki juga merupakan agen perubahan perilaku.

Sehingga dalam hal ini mereka mampu memberikan contoh baik, bagaimana citra maskulin.

Misalnya terlibat dalam pengasuhan anak, berbagi peran dengan istri, bantu pekerjaan domestik ibu di rumah, dan lain-lain.

Continue Reading

CityView

Negeri Surga Rempah-Rempah, Ini Sederet Rempah Indonesia yang Jadi Buruan Dunia

Published

on

By

ilustrasi rempah-rempah

Orang-orang dari benua Eropa terutama Portugis, Spanyol dan Belanda memperebutkan penguasaan tanah atas rempah-rempah Nusantara sepanjang abad ke-16 dan 17.

Pasca menaklukkan pelabuhan perdagangan Malaka pada tahun 1511, Portugis yang dipimpin oleh Francisco Serrao bertolak menuju pusat produksi rempah-rempah Nusantara, yakni Maluku.

Kedatangan bangsa Portugis di tanah Maluku menarik simpati Abu Lais, Sultan Ternate yang menawarkan kerja sama berupa pendirian benteng di Ternate dengan produksi cengkeh yang sepenuhnya bakal dijual untuk Portugis. Melihat peluang emas tersebut, tentu Portugis menyepakati kerjasama dagang yang menguntungkan.

Kerjasama dagang dan ambisi penguasaan rempah inilah yang mengawali periode kolonialisasi di Indonesia.

Rempah-rempah memang menjadi salah satu komoditas unggulan untuk diekspor ke luar negara. Yakni negara-negara Eropa dan Amerika, bahkan sampai sekarang.

Berdasarkan data yang dirilis Food and Agriculture Organization (FAO), pada 2016 Indonesia menempati posisi keempat terbesar di dunia sebagai negara penghasil rempah-rempah dengan total produksi 113.649 ton serta total eskpornya mencapai USD652,3 juta.

Keragaman jenis rempah-rempah khas Nusantara menyokong besarnya nilai ekspor tersebut. Rempah-rempah juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari penggalan perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Dari data Negeri Rempah Foundation, ada sekitar 400-500 spesies rempah di dunia, 275 di antaranya ada di Asia Tenggara dan Indonesia menjadi yang paling dominan. Kekayaan rempah itulah yang membuat Indonesia dijuluki sebagai Mother of Spices.

Indonesia memiliki beberapa daerah sumber rempah-rempah. Diantaranya yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Maluku, Papua, NTT, Sulawesi Selatan, Riau, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan dan Yogyakarta.

Indonesia memiliki peluang besar sebagai pemasok rempah dunia yang bisa memberikan kontribusi besar bagi perekonomian negeri, ini disebabkan dari keragaman jenis dan wilayah penghasil rempah-rempah.

Baca Juga:

  1. Prometheus yang Hijrah ke Jawa Pada Abad Ke-19
  2. Sejarah Lada, Sang Raja Rempah-Rempah Indonesia
  3. Mengenal Mohibadaa, Tradisi Unik Lumuri Wajah dengan Rempah untuk Sambut Ramadan

Kesempatan sebagai pemasok rempah dunia semakin besar apalagi, nilai impor (permintaan) dunia terhadap rempah-rempah setiap tahunnya mengalami kenaikan sebesar 7,2% dengan nilai mencapai USD10,1 miliar.

Setidaknya ada tujuh jenis rempah yang menjanjikan, yakni lada, pala, jahe, cengkeh, kunyit, kayu manis, dan vanili.

Lada

Tanaman bernama latin Piper Nigrum Linn ini dipercaya berasal dari daerah Ghat Barat, India. Menurut catatan Sejarawan, koloni Hindu yang bermigrasi ke Jawa pada tahun 110 – 600 SM turut membawa bibit lada untuk ditanam di tanah yang baru.

Di Indonesia, lada banyak tersebar di daerah Jambi, Aceh, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan Yogyakarta. Persebaran lada cukup banyak di Indonesia dan cocok dengan iklimnya yang tropis.

Lada menjadi komoditas rempah utama Indonesia dengan nilai ekspor mencapai USD143,6 juta atau sekitar Rp1,9 triliun.

Pala

Pala banyak tersebar di wilayah luar Jawa seperti Maluku, Bengkulu, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara dan Papua. Selain kegunaannya sebagai rempah-rempah, Pala juga menjadi komoditas penghasil minyak atsiri. Pala juga merupakan tanaman khas Maluku dan Banda. Semasa kolonialisme, Pala banyak diburu oleh para kompeni.

Nilai ekspor Pala ada di urutan ketiga dengan nilai mencapai USD44,1 juta.

Jahe

SIfat jahe itu khas. Pedas-pedas hangat. Tak ayal, karena keunikannya ini, jahe menjadi salah satu komoditas rempah unggulan Indonesia. Jahe memiliki banyak khasiat. Baik untuk masakan, maupun bahan obat-oabatan. Nilai ekspor jahe mencapai USD2,6 juta.

Cengkeh

Semasa ekspansi Portugis ke Maluku, cengkeh menjadi rempah yang paling populer dan mahal, terutama di Eropa. Harga cengkeh sama dengan harga sebatang emas. Rempah ini merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari Kepulauan Maluku yakni Ternate dan Tidore.

Di Indonesia, cengkeh tersebar di daerah Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, NTT, Papua, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan, dan Yogyakarta. Nilai ekspor cengkeh mencapai nilai USD11,3 juta.

Kunyit

Kunyit memiliki sejarah sebagai tanaman obat. Namun, kunyit juga bisa digunakan sebagai rempah-rempah penyedap masakan. Di Asia Tenggara, kunyit tidak hanya digunakan sebagai bumbu utama saja. Akan tetapi juga digunakan sebagai komponen upacara religius.

Nilai ekspor kunyit mencapai USD3,5 juta. 

Kayu Manis

Kayu Manis biasa digunakan sebagai pelengkap pada kue atau minuman, sebab dia memiliki aroma yang harum serta rasa manis yang khas dan tidak eneg. Tak hanya sebagai pelengkap ‘yang manis-manis’, kayu manis juga memiliki manfaat bagi kesehatan.

Daerah persebarannya banyak terdapat di Jambi, Sumatra Barat, dan Yogyakarta. Kayu manis memiliki nilai ekspor yang berada di urutan kedua di bawah lada dengan nilai USD44,8 juta.

Vanili

Seperti kayu manis, vanili juga akrab digunakan sebagai pelengkap kue bagi para ibu-ibu yang ingin membuat kue agar tidak amis.

Sebetulnya rempah ini bukan tanaman khas Indonesia, namun berasal dari Meksiko.

Akan tetapi, di Indonesia sudah banyak dibudidayakan terutama di daerah Jawa Timur, Lampung, NTT, Jawa Tengah, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Harga per pound-nya bisa mencapai USD50-200 atau sekitar Rp700 ribu-3 juta. Nilai ekspor vanili Indonesia mencapai USD30,2 juta.

Continue Reading

LATEST NEWS

Lifestyle21 jam ago

Anak Kecanduan Gadget? Simak 6 Tips Menghentikannya

Saat ini, anak-anak sudah menjadi lebih terbiasa bermain dengan gadget daripada bermain di luar. Mereka kecanduan game mobile, televisi, dan...

CityView1 hari ago

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata...

Hangout1 hari ago

Museum PETA, Simbol Penghargaan untuk Pejuang Tanah Air

Museum PETA yang berada di Bogor merupakan destinasi wisata sejarah yang dapat kalian kunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan Indonesia....

Bisnis2 hari ago

Mantan Bos Bukalapak Ungkap Penyebab Ramai Perusahaan StartUp Tumbang

Perusahaan startup secara bersamaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya beberapa waktu lalu. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi yang...

Teknologi2 hari ago

Mulai 1 Juli 2022, Beli Pertalite Wajib Daftar di Aplikasi Pertamina

Mulai 1 Juli 2022, aplikasi My Pertamina bakal menjadi syarat bagi pembeli untuk mereka dapat membeli bahan bakar minyak (BBM)...

Sosial-Budaya2 hari ago

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara...

CityView2 hari ago

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa...

Internasional3 hari ago

Sebar Hoaks Tentang Operasi Militer Spesial ke Ukraina, Rusia Denda Google Rp18 Miliar

Google dikabarkan telah didenda senilai 68 juta rubel atau sekitar Rp 18 miliar oleh pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor. Di mana...

Internasional3 hari ago

Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan tiba di Munich International Airport, Munich, Jerman,...

Edukasi1 minggu ago

Pandemi dan Era Kenormalan Baru, Ini Sisi Tumpul Pembelajaran Virtual

Sejak 13 Juli 2020 lalu, sekolah memasuki masa aktif tahun ajaran baru 2020/2021. Pada masa pemantauan (transisi) kasus pandemik covid...

Internasional1 minggu ago

Mantan Presiden Rusia: AS Harus Merangkak & Memohon

Pernyataan kontroversial kembali dikeluarkan oleh Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Kali ini ia mengatakan untuk berdiskusi soal pengurangan senjata nuklir,...

Hangout1 minggu ago

Roti Gambang, Disebut Bantalan Rel, Ternyata Terbaik di Dunia

Cityzen punya bayangan yang jelas apa itu roti? Namun, pernahkah Cityzen -terutama anak-anak muda generasi Z- mendengar atau mencicipi roti gambang? Bagi...

Kesehatan-Kecantikan1 minggu ago

Dilegalkan di Thailand, Ini Ragam Efek Ganja bagi Tubuh

Kini ganja telah menjadi barang legal di Thailand. Seusai pelegalan itu, bahkan Bangkok menggelar pameran ganja dan rami 360 derajat...

Properti1 bulan ago

Tahun 2022 Jadi Momentum Kebangkitan Sektor Properti

Perusahaan riset, konsultasi, dan manajemen properti Knight Frank Indonesia menyebut tahun 2022 ini sebagai tahun kebangkitan sektor properti. Berbagai kendala...

Properti1 bulan ago

Ayo Serbu, Ada Rumah Tapak Rasa Apartemen di Tanjung Barat

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan kalangan pengembang seiring perubahan tren dan lifestyle masyarakat perkotaan. Konsep hunian rumah tapak dengan desain...

Internasional1 bulan ago

Insiden Penembakan Maut di Sekolah Dasar Texas, 18 Anak & 3 Orang Dewasa Tewas

Para pejabat setempat mengatakan jumlah korban penembakan di sebuah sekolah dasar (SD) (sebelumnya ditulis TK) di South Texas, Amerika Serikat...

Traveling2 bulan ago

Museum Radya Pustaka, Museum Tertua di Solo yang Masih Menyimpan Hadiah Napoleon Bonaparte

Jika Cityzen jalan-jalan ke Kota Solo, boleh mampir sejenak ke museum tertua di Jawa, yakni Museum Radya Pustaka. Museum ini...

Nasional2 bulan ago

Hampir Sembuh, Ade Armando Tak Sabar Kembali Berjuang

Dosen FISIP Universitas Indonesia (UI) dan juga pegiat media sosial, Ade Armando, menjadi korban pengeroyokan saat demo 11 April 2022...

Teknologi2 bulan ago

WhatsApp Rilis 11 Fitur Baru, Begini Cara Pakainya

Pada tahun 2022 ini Whatsapp akan memperkenalkan sejumlah fitur baru yang telah dimilikinya. Berbagai fitur tersebut diciptakan agar dapat meningkatkan...

Internasional2 bulan ago

Mengerikan, Begini Penampakan Kuburan Massal Rusia & Ukraina

Perang antara Rusia dengan Ukraina menyebabkan penderitaan bagi seluruh penduduknya, terutama warga sipil. Pihak Ukraina pun melaporkan di sekitaran ibu...

Nasional2 bulan ago

Antisipasi Lonjakan Pemudik, Kemenkes Siapkan 13.968 Fasilitas Kesehatan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan 13.968 fasilitas kesehatan guna mengantisipasi pemudik yang sakit atau memerlukan pertolongan medis secara cepat dan memadai....

Trending