Connect with us

Histori

Kebangkitan Pendidikan Perempuan di Jawa Era Kolonial

Published

on

perempuan yang mendobrak feodalisme

Berbicara tentang Kartini memang tidak akan ada habisnya. Dia dikenal sebagai pahlawan emansipasi dan berjasa bagi kebebasan perempuan, kebebasan yang bukan hanya bebas dari kungkungan adat jawa yang begitu saklek, tetapi adat istiadat feodal yang menarik garis pemisah antara kaum laki-laki dan perempuan.

Sehingga, muncul pemikiran mengenai masalah pendidikan yang nantinya akan merobohkan sendi-sendi adat feodalisme, kemudian membuat kaum perempuan bebas memperoleh pendidikan.

Pemikiran Kartini yang ada dalam kumpulan surat-suratnya, sejatinya adalah sebuah konsep tentang pendidikan dan pembelajaran terhadap kaum perempuan.

Kartini adalah tokoh pejuang emansipasi wanita, seorang yang memperjuangkan pendidikan terutama bagi kaum perempuan.

Pada saat itu, rakyat Indonesia berada dalam kondisi yang memprihatinkan, mereka hidup dalam kemiskinan dan kebodohan akibat politik tanam paksa yang diterapkan oleh pihak Belanda.

Belum lagi ditambah dengan adanya adat dan tradisi feodalisme yang masih melekat pada masyarakat di Jawa.

Menurut Ira dan Milastri dalam buku Perempuan Pembelajar, ada banyak sebab terjadinya diskriminasi terhadap perempuan. Baik secara teologis, filosofis, maupun kultural.

Seperti, masih kentalnya budaya patriarki, karena sejak lama masyarakat telah didominasi oleh kebudayaan patriarkal dan menganggap perempuan sebagai makhluk tak berdaya. 

Lewat surat-suratnya, Kartini mencoba mendiskusikan segenap gejolak batin dalam dirinya kepada sahabat-sahabatnya di luar negeri. 

Balqis Khayyirah dalam buku Perempuan-perempuan yang Mengubah Wajah Dunia, menulis Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa.

Baca Juga:

  1. Organisasi Islam Ini Merespons Persoalan Perempuan
  2. KemenPPPA : Sebanyak 53 Persen Tenaga Kerja Perempuan Alami Kesenjangan Gender
  3. Khasiat Daun Kelor untuk Perempuan, Bisa Mempercantik Kulit

Sehingga timbul keinginan untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah kala itu.

Dalam kaitan ini, pengalaman Kartini menjadi penting untuk diperhatikan. Dia adalah saksi dari munculnya sebuah kesadaran baru di kalangan perempuan dan masyarakat Indonesia secara umum, tentang kemajuan perempuan yang tumbuh menyusul kebijakan politik etis.

Kartini memang mewarisi semangat pembaharuan pendidikan dari Abendanon. Ini ditandai bukan hanya dari kedekatannya dengan salah seorang tokoh politik etis tersebut, tetapi yang terpenting adalah hasratnya yang besar bagi kemajuan kaum perempuan.

Lebih dari itu, sejalan dengan pemikiran Abendanon, Kartini memilih pendidikan sebagai jalur yang harus ditempuh perempuan untuk memperoleh pengakuan sejajar dengan laki-laki.

Dalam kaitan inilah, dia diakui sebagai simbol dari awal gerakan emansipasi perempuan di Indonesia, dia menjadi pelopor kebangkitan perempuan Indonesia.

Kartini datang membawa pembaharuan bagi bangsa Indonesia. Ide dan gagasan-gagasan Kartini telah membawa bangsa Indonesia ke arah modernisasi.

Menurut Kartini, salah satu upaya untuk terbebas dari kemiskinan dan kebodohan, meningkatkan harkat dan derajat manusia adalah dengan pendidikan.

Bagi Kartini, pendidikan merupakan hal yang sangat penting terutama bagi kaum perempuan yang pada saat itu tidak diijinkan untuk bersekolah. Ide dan pemikirannya terus hidup dalam masyarakat.

Hal ini dapat terlihat dari adanya masyarakat yang ingin meningkatkan harkat dan martabat mereka dengan memiliki pendidikan yang lebih tinggi.

Meskipun Kartini tidak berjuang secara fisik, tetapi Kartini telah mengemukakan ide-ide pembaharuan bagi masyarakat dan bangsanya.

Sejarah dunia seringkali membuktikan bahwa dengan lahirnya ide-ide pembaharuan tidak jarang telah membawa kepada perbaikan dan kemajuan.

Penting ditekankan, bahwa perkembangan gagasan kemajuan yang menjadi cita-cita bersama bangsa Indonesia saat itu, memang didukung teknologi cetak yang sudah diperkenalkan pihak kolonial.

Di samping faktor pendidikan, perkembangan teknologi cetak telah memainkan peran sangat penting dalam pembentukan wacana sosial-intelektual di Indonesia.

Media cetak telah menjadi sarana efektif bagi perkembangan dan penyebaran gagasan. Hal ini disebabkan gagasan-gagasan Kartini disebarkan melalui tulisan-tulisan yang terbit di berbagai surat kabar, yang memang telah berkembang pesat di Indonesia saat itu.

Tulisan-tulisan Kartini tidak saja dibaca oleh sahabat-sahabat sebangsa, tetapi juga dari bangsa lain, khususnya Belanda.

Kartini adalah figur seorang wanita idealis yang visioner, saat kaum perempuan di Jawa terkungkung oleh sistem kebudayaan yang membatasi ruang gerak mereka.

Para perempuan hanya dianggap sebagai “pemeran pembantu” yang menjalankan perannya sebagai konco wingking dengan tugas utama melahirkan anak dan melayani suami. Sementara Kartini, tidak sependapat dengan kultural tersebut.

Ia mendambakan dan memperjuangkan nasib perempuan supaya dapat mengaktualisasikan diri secara penuh melalui pendidikan yang maksimal.

Kemampuannya dalam membagi visi, melakukan lobi-lobi, dan membina kerja sama dengan para penguasa yang pro-rakyat terbukti telah melahirkan proyek-proyek pendidkan nyata yang terukur untuk kepentingan rakyat.

Semasa hidupnya, ia mampu memberikan arti dan semangat tersendiri dalam perjuangan kaum perempuan untuk meraih persamaan.

Melalui hobinya menulis dan membaca serta mencari informasi atau tukar pikiran dengan rekan-rekannya di Belanda, ia juga memberikan spirit bagi tokoh-tokoh perempuan di Indonesia.

Kartini telah memberikan inspirasi kepada banyak perempuan di dunia, bahkan Eleanor Roosevelt pun terkesan setelah membaca terjemahan kumpulan surat-surat Kartini, Leeters of a Javanese Princess.

Bagi Eleanor, gagasan-gagasan yang ditemukannya dalam surat-surat itu sangat menggugah hati nuraninya.

Perjuangan Kartini adalah perjuangan dengan memberikan semangat dan pemikiran bagi bangsa Indonesia, terutama kaum perempuan, untuk bisa maju seperti laki-laki dalam segala bidang, khususnya dalam mengejar pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Saat itu, perempuan hanyalah bertugas menjalankan kodratnya saja, tanpa diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Mengingat, setiap manusia diberikan potensi masing-masing yang menyertai dirinya.

Potensi inilah yang pada akhirnya berkembang menjadi suatu kemajuan dalam ilmu pengetahuan di muka bumi.

Semangat dan buah dari pemikirannya masih dapat kita rasakan hingga saat ini. Berkat kegigihannya, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan selanjutnya di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah-daerah lainnya.

Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Devennter, seorang tokoh Politik Etis.

Dengan refleksi semangat dan pemikiran Kartini, kita juga dapat meneruskan perjuangannya untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan.

Masih banyak hal yang bisa kita lakukan, tentunya dengan melihat potensi yang ada pada diri kita. Tidak hanya dalam rumah tangga, lingkungan sekitar, tetapi juga dalam organisasi dan ruang kerja.

Yang jelas kaum perempuan saat ini tidak harus minder atau malu dengan keterbatasannya, tetapi lebih bisa mengedepankan potensi yang dimilikinya, sehingga bisa menatap masa depan yang lebih cerah.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Histori

Ratu Kalinyamat, Perempuan Jepara yang Menorehkan Nama dalam Jejak Maritim Nusantara

Published

on

By

ilustrasi ratu kalinyamat

Masyarakat Jawa mengenal tradisi posisi perempuan sebagai konco wingking atau teman belakang. Pembagian peran pada perempuan berdasarkan konstruksi konco wingking ini tak jauh-jauh dari ruang domestik atau urusan rumah tangga. Ungkapan populer bagi perempuan Jawa yang paling umum terdengar untuk peran mereka adalah sumur, kasur dan dapur.

Akan tetapi, pada periode tertentu malah menunjukkan sebaliknya. Selalu ada peristiwa historis yang menunjukkan bahwa perempuan bisa menjadi aktor dalam sejarah.

Munculnya sosok Ratu Kalinyamat sebagai sosok dan lakon perempuan Jawa telah menunjukkan kondisi sebaliknya dengan tradisi dan konstruksi atau penggambaran perempuan Jawa secara umum dan lazim.

Retna Kencana yang dikenal sebagai Ratu Kalinyamat merupakan sosok perempuan yang hidup di pesisir utara Jawa.

Ratu Kalinyamat memimpin Jepara pada abad ke-16 dan memiliki peran yang luas. Tak hanya di lingkup lokal-regional, melainkan juga menjangkau lingkup internasional.

Potret Ratu Kalinyamat telah membekas dan memberikan jejak tersendiri sepanjang sejarah maritim di Indonesia. Pun mengenai keterlibatan langsung perempuan Jawa yang menjaga kedaulatan perairan Nusantara.

Selama masa 30 tahun kepemimpinannya di Jepara, Ratu Kalinyamat tercatat telah membawa Jepara pada gerbang kejayaannya.

Bersama dengan armada laut yang dimilikinya, Ratu Kalinyamat telah dua kali menyerang armada Portugis di Malaka.

Jepara semakin berkembang pesat menjadi bandar atau kota pelabuhan terbesar di Pantau Utara Jawa selama masa kekuasaannya. Jepara di bawah komando Ratu Kalinyamat pun memiliki armada laut yang besar dan kuat.

Pada penyerangan ke armada Portugis yang pertama, Ratu Kalinyamat beserta armadanya berhasil mengepung Malaka selama tiga bulan. Tujuan dari penyerangan ini dilakukan untuk menarik mundur Portugis dari Malaka pada tahun 1551 dan tahun 1574.

Namun, pada penyerangan yang kedua, Ratu Kalinyamat gagal dan terpaksa menarik kembali pasukannya ke Jawa.

Baca Juga:

  1. Kartini dan Kondisi Sosial Budaya Perempuan Jawa dalam Jerat Feodalisme
  2. Kebangkitan Pendidikan Perempuan di Jawa Era Kolonial
  3. Organisasi Islam Ini Merespons Persoalan Perempuan

Walaupun demikian, pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat, kota pelabuhan Jepara merupakan salah satu kota atau kerajaan maritim di Pantai Utara Jawa yang sangat kuat. Sehingga masyarakat Jepara pada masa itu telah tampil dalam panggung sejarah Nusantara sebagai masyarakat bahari.

Dalam hal ini, masyarakat Jepara bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang diperoleh dari kegiatan memanfaatkan sumber daya lautnya.

Mengutamakan Perdagangan ke Tanah Seberang

Selama masa kepemimpinannya, Ratu satu ini tidak memfokuskan pada eksploitasi lahan pertanian yang menjadi wilayah kekuasaannya, sama seperti yang dilakukan pendahulunya.

Sang Ratu lebih fokus menggarap aktivitas pelayaran dan perdagangan dengan daerah di luarnya atau daerah seberang wilayahnya.

Tak hanya itu, sang Ratu juga visioner dan melakukan serangkaian terobosan yakni menerapkan sistem commenda atau kontrak pinjaman alat bayar/uang untuk perdagangan dalam melakukan hubungan dagang dan pelayaran.

Sistem commenda ini mengatur raja atau penguasa yang ada di wilayah pesisir melalui wakil-wakilnya di Malaka.

Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menanamkan modal pada kapal dari dalam maupun luar negeri yang akan berlayar untuk melaksanakan perdagangan dengan wilayah lain.

Keberanian sang Ratu diakui juga oleh bangsa Portugis. Diego de Couto, dalam bukunya Da Asia menyebutnya sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica (Ratu Jepara, seorang perempuan kaya dan sangat berkuasa) dan sumber lainnya juga menyebutnya sebagai De Kraine Dame (seorang perempuan yang pemberani).

Sepeninggal Ratu Kalinyamat dan ditundukkannnya kekuasaan Jepara di tangan Sultan Pajang, Jepara mengalami kemunduran. Akan tetapi, bukan berarti bandar Jepara serta aktivitas berdagangnya berhenti.

Pelaut Belanda yang pertama kali menginjakkan kaki ke Jepara menggambarkan Jepara masih berfungsi sebagai pelabuhan ekspor yang masih menjadi bagian terpenting dari kerajaan Mataram.

Sekitar tahun 1680-an, VOC memperoleh konsesi dalam bentuk sewa (gadai) dari Raja Mataram untuk mendirikan benteng di Pelabuhan Jepara.

Atas dasar pertimbangan yang dianggap menguntungkan, Jepara dipilih sebagai pusat kekuasaan VOC selain Batavia pada waktu itu.

Tujuan dari VOC tak lain adalah mewarisi sarana prasarana kota pelabuhan Jepara, termasuk dengan lokasinya yang strategis. Utamanya ialah karena potensi Jepara yang saat itu masih memiliki daerah yang menghasilkan produk pertanian.

Continue Reading

Histori

Prometheus yang Hijrah ke Jawa Pada Abad Ke-19

Published

on

By

ilustrasi petani tebu

Berbeda dengan Kuba yang struktur masyarakat industrinya diletakkan di atas landasan perbudakan, pertanian tebu di Pulau Jawa di abad 19 mendasarkan dirinya pada hubungan industrial agraris yang rumit.

“Prometheus datang ke Jawa!” ungkap G. Roger Knight. Penulis buku Sugar, Steam and Steel: The Industrial Project in Colonial Java, 1830 – 1885. Roger adalah sedikit dari penulis serta peneliti yang teruji reputasinya, khususnya dalam bidang studi kolonialisme di Indonesia.

Roger lahir di kawasan pedesaan Shropshire, Inggris. Sejak akhir 60-an dia tinggal dan mengajar di Adelaide, Australia.

Dalam mitologi Yunani, Prometheus adalah seorang titan yang mencuri api dari Zeus dan diberikan kepada manusia. Akibat ulahnya ini, Promotheus dihukum oleh Zeus dengan dirantai di sebuah batu besar, dan seekor elang besar akan memakan  hatinya setiap hari.

Hati Promotheus akan tumbuh setiap hari dan elang tersebut akan memakan hatinya lagi, begitu seterusnya.

Prometheus yang dimaksud oleh Roger datang ke dalam bentuk teknologi mesin uap, baja dan modal raksasa. Dalam waktu kurang dari seratus tahun, trio Prometheus ini membawa Pulau Jawa menjadi pemasok gula terbesar setalah Kuba di dunia.

Roger mencoba menjelaskan proses transformasi yang terjadi di Pulau Jawa pada pertengahan abad 19.

Berbeda dengan Kuba yang merupakan penghasil gula nomor wahid kala itu, Pulau Jawa memiliki karakteristik daerah pertanian yang tidak berlandaskan pada tenaga kerja budak. Di Kepulauan tropis terbaik se-Asia Tenggara ini, perbudakan seolah tidak mendapatkan tempat yang layak.

Pulau Jawa berubah menjadi kawasan industri manufaktur penghasil komoditas gula yang sangat digemari di dunia. Hal itu berlangsung antara 1830 hingga 1880 saja.

Perkembangan yang melesat itu mendahului negeri-negeri sekitarnya di Asia, dengan kekuatan teknologi dan ilmu pengetahuan yang paling maju pada saat itu.

Baca Juga:

  1. Sejarah Panjang Kebun Raya Cibodas
  2. Kisah Keluarga Tuan Tanah Kaya di Cibubur
  3. Dilema Mengatasi Kemiskinan Kota

Industrialisasi Berkarakter Timur

Berbeda dengan Kuba yang struktur masyarakat industrinya diletakkan di atas landasan perbudakan, pertanian tebu di Pulau Jawa di abad 19 mendasarkan dirinya pada hubungan industrial agraris yang rumit dan belajar dari beberapa kegagalan sebelumnya.

Berdasarkan perkembangan industri gula abad ke-19, perkembangan kota-kota di Pulau Jawa harus diakui memiliki jejak perubahan secara struktural.

Pertumbuhan ekonomi yang membangun strukturnya di atas model perbudakan adalah salah satu fakta sejarah yang memberi satu kepastian, yakni ketersediaan tenaga kerja.

Perbudakan menyediakan ketersediaan tenaga kerja yang siap pakai, siap jumlah, dan siap tenaga. Semua itu pada masanya dianggap lumrah. Padahal kalau hal itu terjadi beberapa ratus tahun sesudahnya sudah pasti akan melanggar konsensus antarbangsa.

Sejak abad ke-16, Kuba hanya seperti wilayah benua baru Amerika lainnya yang merupakan kawasan tujuan bagi pasokan kekuatan kerja budak. Yang diangkut melewati samudera dari berbagai pelabuhan penjualnya di pantai timur hingga pantai barat Afrika.

Sedangkan di Pulau Jawa, budak tidak pernah menjadi kekuatan tenaga kerja pembangun ekonomi. Memang ada kalanya ketika pelaut-pelaut Portugis datang dan menguasai bandar-bandar komersil, pasar-pasar budak menyediakan orang yang siap dipekerjakan bagi perkebunan besar di Sumatera. Akan tetapi, hal tersebut tidak pernah menjadi industri tetap.

Akibatnya ketika kekuatan modal dari Belanda (Eropa) ingin ikut mengikuti keberhasilan VOC di pesisir utara Jawa dengan membangun kawasan industri berbasis tenaga kerja yang besar, mereka mengalami kegagalan saat memulainya.

Kedatangan Van den Bosch

Pencetus Cultuurstelsel adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang diangkat pada Oktober 1828. Dia dikenal dengan nama Van den Bosch. Edi Cahyono dalam buku berjudul Pekalongan 1830-1870: Transformasi Petani Menjadi Buruh Industri Perkebunan (2005) bercerita banyak tentang proses industrialisasi manufaktur di pesisir utara Jawa abad 19.

Van den Bosch tidak segera datang ke Jawa. Dia harus menunggu penyelesaian kebijakan daerah koloni yang waktu itu dikelola swasta kembali ke tangan negara.

Bulan Maret 1829 baru ada kabar  pengunduran diri pengelola swasta. Baru pada akhir Juli 1829 Bosch berangkat dari Belanda dan tiba di Batavia 2 Januari 1830.

Pada 13 Agustus 1830, Bosch menyetujui untuk menanam tebu di karesidenan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kali ini skema yang dia pilih adalah industri yang didukung oleh perusahaan milik negara atau staatbedrijf

Salah satu alasan kuat untuk berpindah ke koloni pantai utara Jawa adalah tersedianya populasi petani yang padat dan area-area luas pedesaan yang beririgasi.

Pengelolaan industri selanjutnya dilakukan secara profesional. Pengembang mengelola modal dengan manajemen usaha dan manajemen tenaga kerja yang lebih tertata.

Modal diwujudkan dalam penggunaan gabungan teknologi canggih seperti kincir air dan mesin uap digabungkan dengan kelebihan teknik penggilingan tradisional yang mahir dijalankan oleh orang-orang Tionghoa.

Pengelola manajemen langsung ditangani oleh orang-orang Eropa, sedangkan yang paling istimewa tenaga kerja kasar dikerahkan dengan menggunakan ikatan-ikatan perhambaan yang dimediasikan oleh lapisan penguasa bumiputera.

Continue Reading

Histori

Ternyata, Krisis Bawang Putih di Indonesia Seringkali Terjadi

Published

on

By

bawang putih

Siapa sangka, Indonesia pernah mengalami krisis bawang putih. Padahal pada tahun 1991 berdasarkan data survei Biro Pusat Statistik, produksi bawang putih nasional melesat tajam hingga 133.874 ton dengan memakan lahan seluas 21.126 hektar.

Pulau Jawa merupakan ladang budidaya bawang putih. Akan tetapi, semenjak tahun 1982 budidaya bawang putih sudah tersebar luas di luar pulau Jawa. Budidaya bawang putih di Bali menyita lahan hingga 1.737 hektar, 1323 hektar di Nusa Tenggara, 744 hektar di Sumatera, 100 hektar di Sulawesi, 84 hektar di Maluku dan Irian Jaya.

Total produksi bawang putih nasional tahun 1982 mencapai 13.161 ton. Namun, fenomena impor bawang putih ilegal malah menjangkit beberapa wilayah di Indonesia. 

Tenyata kebutuhan bawang putih di pasaran membludak melebihi batasnya. Bawang putih telah menjadi rempah rempah favorit bagi masyarakat Indonesia.

Apalagi sebagian besar masakan Indonesia memerlukan bawang putih sebagai bahan penyedap rasa.

Sekitar awal abad ke-16, pembudidayaan bawang putih diterapkan di Inggris. Setelah itu budidaya bawang putih diperkenalkan ke belahan dunia lainnya seperti Spanyol, Bulgaria, Mesir, Jepang, Brazilia, Meksiko, California, Filipina dan Rumania.

Sekitar abad ke-19, budidaya bawang putih mulai diperkenalkan di Nusantara. Ketika impor bawang putih ilegal semakin liar, pemerintah Indonesia berupaya mengatasinya dengan mengeluarkan peraturan Republik Indonesia No.15 tahun 1991 tentang standar nasional Indonesia.

Peraturan ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan daya guna produksi serta menjamin mutu produk.

Baca Juga:

  1. Resep Korean Garlic Cheese Bread, Lembutnya Keju dan Gurihnya Bawang Putih Bersatu
  2. Ampuh Atasi Kolesterol Tinggi, Ini Khasiat Campuran Lemon dan Bawang Putih
  3. Sejarah Lada, Sang Raja Rempah-Rempah Indonesia

Pemerintah seolah olah memberlakukan Policy Impor, berusaha membangkitkan sektor agraris dalam negeri tanpa memahami jika produktivitas sayur-sayuran dan buah-buahan dalam negeri tidak mampu menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat Indonesia.

Sebuah opini koran Jawa Pos bertanggal 1 Mei 1991 memaparkan penjelasan nilai ekonomis bawang putih. Penulisnya Dosen Agribisnis dari Universitas Brawijaya, Dr Soekartawi, menganalisis masalah bawang putih di Malang Selatan.

Adanya kasus penyelundupan secara ilegal menandakan daya beli masyarakat Indonesia yang tinggi terhadap bawang putih.

Petani-petani bawang putih di Indonesia yang menghasilkan tumpukan bawang putih ternyata tidak mampu memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat sehingga harga bawang putih melonjak.

Semua tidak terlepas dari kegunaan bawang putih yang beragam dari sebagai obat-obatan hingga bumbu penyedap makanan.

Para tengkulak menyiasatinya dengan melakukan penyelundupan bawang putih ilegal dari luar negeri.

Komoditas bawang putih yang menggiurkan merupakan sebab-akibat dari kasus-kasus penyelundupan semacam itu. Menurut Dr Soekartawi dalam opininya, bawang putih tergolong tanaman manja.

Ketersediaan bibit unggul dan hambatan panca usaha tani menjadi kesulitan tersendiri bagi para petani untuk bisa memanen berton-ton bawang putih.

Bibit unggul harus melewati proses penyimpanan yang relatif lama, sebab umbi bawang putih mempunyai ciri spesial yakni masa istirahat.

Masa penantian yang cukup lama yakni 8 bulan, itu merupakan kendala utama bagi petani. Para petani menyiasatinya dengan membeli bibit dari orang lain yang belum diketahui telah melewati masa istirahat atau belum.

Pemilihan bibit yang kurang baik ditambah lagi teknik bercocok tanam yang kurang efisien membuat produktivitas per-hektarnya rendah.

Continue Reading

LATEST NEWS

Lifestyle20 jam ago

Anak Kecanduan Gadget? Simak 6 Tips Menghentikannya

Saat ini, anak-anak sudah menjadi lebih terbiasa bermain dengan gadget daripada bermain di luar. Mereka kecanduan game mobile, televisi, dan...

CityView1 hari ago

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata...

Hangout1 hari ago

Museum PETA, Simbol Penghargaan untuk Pejuang Tanah Air

Museum PETA yang berada di Bogor merupakan destinasi wisata sejarah yang dapat kalian kunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan Indonesia....

Bisnis2 hari ago

Mantan Bos Bukalapak Ungkap Penyebab Ramai Perusahaan StartUp Tumbang

Perusahaan startup secara bersamaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya beberapa waktu lalu. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi yang...

Teknologi2 hari ago

Mulai 1 Juli 2022, Beli Pertalite Wajib Daftar di Aplikasi Pertamina

Mulai 1 Juli 2022, aplikasi My Pertamina bakal menjadi syarat bagi pembeli untuk mereka dapat membeli bahan bakar minyak (BBM)...

Sosial-Budaya2 hari ago

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara...

CityView2 hari ago

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa...

Internasional3 hari ago

Sebar Hoaks Tentang Operasi Militer Spesial ke Ukraina, Rusia Denda Google Rp18 Miliar

Google dikabarkan telah didenda senilai 68 juta rubel atau sekitar Rp 18 miliar oleh pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor. Di mana...

Internasional3 hari ago

Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan tiba di Munich International Airport, Munich, Jerman,...

Edukasi1 minggu ago

Pandemi dan Era Kenormalan Baru, Ini Sisi Tumpul Pembelajaran Virtual

Sejak 13 Juli 2020 lalu, sekolah memasuki masa aktif tahun ajaran baru 2020/2021. Pada masa pemantauan (transisi) kasus pandemik covid...

Internasional1 minggu ago

Mantan Presiden Rusia: AS Harus Merangkak & Memohon

Pernyataan kontroversial kembali dikeluarkan oleh Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Kali ini ia mengatakan untuk berdiskusi soal pengurangan senjata nuklir,...

Hangout1 minggu ago

Roti Gambang, Disebut Bantalan Rel, Ternyata Terbaik di Dunia

Cityzen punya bayangan yang jelas apa itu roti? Namun, pernahkah Cityzen -terutama anak-anak muda generasi Z- mendengar atau mencicipi roti gambang? Bagi...

Kesehatan-Kecantikan1 minggu ago

Dilegalkan di Thailand, Ini Ragam Efek Ganja bagi Tubuh

Kini ganja telah menjadi barang legal di Thailand. Seusai pelegalan itu, bahkan Bangkok menggelar pameran ganja dan rami 360 derajat...

Properti1 bulan ago

Tahun 2022 Jadi Momentum Kebangkitan Sektor Properti

Perusahaan riset, konsultasi, dan manajemen properti Knight Frank Indonesia menyebut tahun 2022 ini sebagai tahun kebangkitan sektor properti. Berbagai kendala...

Properti1 bulan ago

Ayo Serbu, Ada Rumah Tapak Rasa Apartemen di Tanjung Barat

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan kalangan pengembang seiring perubahan tren dan lifestyle masyarakat perkotaan. Konsep hunian rumah tapak dengan desain...

Internasional1 bulan ago

Insiden Penembakan Maut di Sekolah Dasar Texas, 18 Anak & 3 Orang Dewasa Tewas

Para pejabat setempat mengatakan jumlah korban penembakan di sebuah sekolah dasar (SD) (sebelumnya ditulis TK) di South Texas, Amerika Serikat...

Traveling2 bulan ago

Museum Radya Pustaka, Museum Tertua di Solo yang Masih Menyimpan Hadiah Napoleon Bonaparte

Jika Cityzen jalan-jalan ke Kota Solo, boleh mampir sejenak ke museum tertua di Jawa, yakni Museum Radya Pustaka. Museum ini...

Nasional2 bulan ago

Hampir Sembuh, Ade Armando Tak Sabar Kembali Berjuang

Dosen FISIP Universitas Indonesia (UI) dan juga pegiat media sosial, Ade Armando, menjadi korban pengeroyokan saat demo 11 April 2022...

Teknologi2 bulan ago

WhatsApp Rilis 11 Fitur Baru, Begini Cara Pakainya

Pada tahun 2022 ini Whatsapp akan memperkenalkan sejumlah fitur baru yang telah dimilikinya. Berbagai fitur tersebut diciptakan agar dapat meningkatkan...

Internasional2 bulan ago

Mengerikan, Begini Penampakan Kuburan Massal Rusia & Ukraina

Perang antara Rusia dengan Ukraina menyebabkan penderitaan bagi seluruh penduduknya, terutama warga sipil. Pihak Ukraina pun melaporkan di sekitaran ibu...

Nasional2 bulan ago

Antisipasi Lonjakan Pemudik, Kemenkes Siapkan 13.968 Fasilitas Kesehatan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan 13.968 fasilitas kesehatan guna mengantisipasi pemudik yang sakit atau memerlukan pertolongan medis secara cepat dan memadai....

Trending