Connect with us

Histori

Ratu Kalinyamat, Perempuan Jepara yang Menorehkan Nama dalam Jejak Maritim Nusantara

Published

on

ilustrasi ratu kalinyamat

Masyarakat Jawa mengenal tradisi posisi perempuan sebagai konco wingking atau teman belakang. Pembagian peran pada perempuan berdasarkan konstruksi konco wingking ini tak jauh-jauh dari ruang domestik atau urusan rumah tangga. Ungkapan populer bagi perempuan Jawa yang paling umum terdengar untuk peran mereka adalah sumur, kasur dan dapur.

Akan tetapi, pada periode tertentu malah menunjukkan sebaliknya. Selalu ada peristiwa historis yang menunjukkan bahwa perempuan bisa menjadi aktor dalam sejarah.

Munculnya sosok Ratu Kalinyamat sebagai sosok dan lakon perempuan Jawa telah menunjukkan kondisi sebaliknya dengan tradisi dan konstruksi atau penggambaran perempuan Jawa secara umum dan lazim.

Retna Kencana yang dikenal sebagai Ratu Kalinyamat merupakan sosok perempuan yang hidup di pesisir utara Jawa.

Ratu Kalinyamat memimpin Jepara pada abad ke-16 dan memiliki peran yang luas. Tak hanya di lingkup lokal-regional, melainkan juga menjangkau lingkup internasional.

Potret Ratu Kalinyamat telah membekas dan memberikan jejak tersendiri sepanjang sejarah maritim di Indonesia. Pun mengenai keterlibatan langsung perempuan Jawa yang menjaga kedaulatan perairan Nusantara.

Selama masa 30 tahun kepemimpinannya di Jepara, Ratu Kalinyamat tercatat telah membawa Jepara pada gerbang kejayaannya.

Bersama dengan armada laut yang dimilikinya, Ratu Kalinyamat telah dua kali menyerang armada Portugis di Malaka.

Jepara semakin berkembang pesat menjadi bandar atau kota pelabuhan terbesar di Pantau Utara Jawa selama masa kekuasaannya. Jepara di bawah komando Ratu Kalinyamat pun memiliki armada laut yang besar dan kuat.

Pada penyerangan ke armada Portugis yang pertama, Ratu Kalinyamat beserta armadanya berhasil mengepung Malaka selama tiga bulan. Tujuan dari penyerangan ini dilakukan untuk menarik mundur Portugis dari Malaka pada tahun 1551 dan tahun 1574.

Namun, pada penyerangan yang kedua, Ratu Kalinyamat gagal dan terpaksa menarik kembali pasukannya ke Jawa.

Baca Juga:

  1. Kartini dan Kondisi Sosial Budaya Perempuan Jawa dalam Jerat Feodalisme
  2. Kebangkitan Pendidikan Perempuan di Jawa Era Kolonial
  3. Organisasi Islam Ini Merespons Persoalan Perempuan

Walaupun demikian, pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat, kota pelabuhan Jepara merupakan salah satu kota atau kerajaan maritim di Pantai Utara Jawa yang sangat kuat. Sehingga masyarakat Jepara pada masa itu telah tampil dalam panggung sejarah Nusantara sebagai masyarakat bahari.

Dalam hal ini, masyarakat Jepara bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang diperoleh dari kegiatan memanfaatkan sumber daya lautnya.

Mengutamakan Perdagangan ke Tanah Seberang

Selama masa kepemimpinannya, Ratu satu ini tidak memfokuskan pada eksploitasi lahan pertanian yang menjadi wilayah kekuasaannya, sama seperti yang dilakukan pendahulunya.

Sang Ratu lebih fokus menggarap aktivitas pelayaran dan perdagangan dengan daerah di luarnya atau daerah seberang wilayahnya.

Tak hanya itu, sang Ratu juga visioner dan melakukan serangkaian terobosan yakni menerapkan sistem commenda atau kontrak pinjaman alat bayar/uang untuk perdagangan dalam melakukan hubungan dagang dan pelayaran.

Sistem commenda ini mengatur raja atau penguasa yang ada di wilayah pesisir melalui wakil-wakilnya di Malaka.

Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menanamkan modal pada kapal dari dalam maupun luar negeri yang akan berlayar untuk melaksanakan perdagangan dengan wilayah lain.

Keberanian sang Ratu diakui juga oleh bangsa Portugis. Diego de Couto, dalam bukunya Da Asia menyebutnya sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica (Ratu Jepara, seorang perempuan kaya dan sangat berkuasa) dan sumber lainnya juga menyebutnya sebagai De Kraine Dame (seorang perempuan yang pemberani).

Sepeninggal Ratu Kalinyamat dan ditundukkannnya kekuasaan Jepara di tangan Sultan Pajang, Jepara mengalami kemunduran. Akan tetapi, bukan berarti bandar Jepara serta aktivitas berdagangnya berhenti.

Pelaut Belanda yang pertama kali menginjakkan kaki ke Jepara menggambarkan Jepara masih berfungsi sebagai pelabuhan ekspor yang masih menjadi bagian terpenting dari kerajaan Mataram.

Sekitar tahun 1680-an, VOC memperoleh konsesi dalam bentuk sewa (gadai) dari Raja Mataram untuk mendirikan benteng di Pelabuhan Jepara.

Atas dasar pertimbangan yang dianggap menguntungkan, Jepara dipilih sebagai pusat kekuasaan VOC selain Batavia pada waktu itu.

Tujuan dari VOC tak lain adalah mewarisi sarana prasarana kota pelabuhan Jepara, termasuk dengan lokasinya yang strategis. Utamanya ialah karena potensi Jepara yang saat itu masih memiliki daerah yang menghasilkan produk pertanian.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Histori

Prometheus yang Hijrah ke Jawa Pada Abad Ke-19

Published

on

By

ilustrasi petani tebu

Berbeda dengan Kuba yang struktur masyarakat industrinya diletakkan di atas landasan perbudakan, pertanian tebu di Pulau Jawa di abad 19 mendasarkan dirinya pada hubungan industrial agraris yang rumit.

“Prometheus datang ke Jawa!” ungkap G. Roger Knight. Penulis buku Sugar, Steam and Steel: The Industrial Project in Colonial Java, 1830 – 1885. Roger adalah sedikit dari penulis serta peneliti yang teruji reputasinya, khususnya dalam bidang studi kolonialisme di Indonesia.

Roger lahir di kawasan pedesaan Shropshire, Inggris. Sejak akhir 60-an dia tinggal dan mengajar di Adelaide, Australia.

Dalam mitologi Yunani, Prometheus adalah seorang titan yang mencuri api dari Zeus dan diberikan kepada manusia. Akibat ulahnya ini, Promotheus dihukum oleh Zeus dengan dirantai di sebuah batu besar, dan seekor elang besar akan memakan  hatinya setiap hari.

Hati Promotheus akan tumbuh setiap hari dan elang tersebut akan memakan hatinya lagi, begitu seterusnya.

Prometheus yang dimaksud oleh Roger datang ke dalam bentuk teknologi mesin uap, baja dan modal raksasa. Dalam waktu kurang dari seratus tahun, trio Prometheus ini membawa Pulau Jawa menjadi pemasok gula terbesar setalah Kuba di dunia.

Roger mencoba menjelaskan proses transformasi yang terjadi di Pulau Jawa pada pertengahan abad 19.

Berbeda dengan Kuba yang merupakan penghasil gula nomor wahid kala itu, Pulau Jawa memiliki karakteristik daerah pertanian yang tidak berlandaskan pada tenaga kerja budak. Di Kepulauan tropis terbaik se-Asia Tenggara ini, perbudakan seolah tidak mendapatkan tempat yang layak.

Pulau Jawa berubah menjadi kawasan industri manufaktur penghasil komoditas gula yang sangat digemari di dunia. Hal itu berlangsung antara 1830 hingga 1880 saja.

Perkembangan yang melesat itu mendahului negeri-negeri sekitarnya di Asia, dengan kekuatan teknologi dan ilmu pengetahuan yang paling maju pada saat itu.

Baca Juga:

  1. Sejarah Panjang Kebun Raya Cibodas
  2. Kisah Keluarga Tuan Tanah Kaya di Cibubur
  3. Dilema Mengatasi Kemiskinan Kota

Industrialisasi Berkarakter Timur

Berbeda dengan Kuba yang struktur masyarakat industrinya diletakkan di atas landasan perbudakan, pertanian tebu di Pulau Jawa di abad 19 mendasarkan dirinya pada hubungan industrial agraris yang rumit dan belajar dari beberapa kegagalan sebelumnya.

Berdasarkan perkembangan industri gula abad ke-19, perkembangan kota-kota di Pulau Jawa harus diakui memiliki jejak perubahan secara struktural.

Pertumbuhan ekonomi yang membangun strukturnya di atas model perbudakan adalah salah satu fakta sejarah yang memberi satu kepastian, yakni ketersediaan tenaga kerja.

Perbudakan menyediakan ketersediaan tenaga kerja yang siap pakai, siap jumlah, dan siap tenaga. Semua itu pada masanya dianggap lumrah. Padahal kalau hal itu terjadi beberapa ratus tahun sesudahnya sudah pasti akan melanggar konsensus antarbangsa.

Sejak abad ke-16, Kuba hanya seperti wilayah benua baru Amerika lainnya yang merupakan kawasan tujuan bagi pasokan kekuatan kerja budak. Yang diangkut melewati samudera dari berbagai pelabuhan penjualnya di pantai timur hingga pantai barat Afrika.

Sedangkan di Pulau Jawa, budak tidak pernah menjadi kekuatan tenaga kerja pembangun ekonomi. Memang ada kalanya ketika pelaut-pelaut Portugis datang dan menguasai bandar-bandar komersil, pasar-pasar budak menyediakan orang yang siap dipekerjakan bagi perkebunan besar di Sumatera. Akan tetapi, hal tersebut tidak pernah menjadi industri tetap.

Akibatnya ketika kekuatan modal dari Belanda (Eropa) ingin ikut mengikuti keberhasilan VOC di pesisir utara Jawa dengan membangun kawasan industri berbasis tenaga kerja yang besar, mereka mengalami kegagalan saat memulainya.

Kedatangan Van den Bosch

Pencetus Cultuurstelsel adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang diangkat pada Oktober 1828. Dia dikenal dengan nama Van den Bosch. Edi Cahyono dalam buku berjudul Pekalongan 1830-1870: Transformasi Petani Menjadi Buruh Industri Perkebunan (2005) bercerita banyak tentang proses industrialisasi manufaktur di pesisir utara Jawa abad 19.

Van den Bosch tidak segera datang ke Jawa. Dia harus menunggu penyelesaian kebijakan daerah koloni yang waktu itu dikelola swasta kembali ke tangan negara.

Bulan Maret 1829 baru ada kabar  pengunduran diri pengelola swasta. Baru pada akhir Juli 1829 Bosch berangkat dari Belanda dan tiba di Batavia 2 Januari 1830.

Pada 13 Agustus 1830, Bosch menyetujui untuk menanam tebu di karesidenan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kali ini skema yang dia pilih adalah industri yang didukung oleh perusahaan milik negara atau staatbedrijf

Salah satu alasan kuat untuk berpindah ke koloni pantai utara Jawa adalah tersedianya populasi petani yang padat dan area-area luas pedesaan yang beririgasi.

Pengelolaan industri selanjutnya dilakukan secara profesional. Pengembang mengelola modal dengan manajemen usaha dan manajemen tenaga kerja yang lebih tertata.

Modal diwujudkan dalam penggunaan gabungan teknologi canggih seperti kincir air dan mesin uap digabungkan dengan kelebihan teknik penggilingan tradisional yang mahir dijalankan oleh orang-orang Tionghoa.

Pengelola manajemen langsung ditangani oleh orang-orang Eropa, sedangkan yang paling istimewa tenaga kerja kasar dikerahkan dengan menggunakan ikatan-ikatan perhambaan yang dimediasikan oleh lapisan penguasa bumiputera.

Continue Reading

Histori

Ternyata, Krisis Bawang Putih di Indonesia Seringkali Terjadi

Published

on

By

bawang putih

Siapa sangka, Indonesia pernah mengalami krisis bawang putih. Padahal pada tahun 1991 berdasarkan data survei Biro Pusat Statistik, produksi bawang putih nasional melesat tajam hingga 133.874 ton dengan memakan lahan seluas 21.126 hektar.

Pulau Jawa merupakan ladang budidaya bawang putih. Akan tetapi, semenjak tahun 1982 budidaya bawang putih sudah tersebar luas di luar pulau Jawa. Budidaya bawang putih di Bali menyita lahan hingga 1.737 hektar, 1323 hektar di Nusa Tenggara, 744 hektar di Sumatera, 100 hektar di Sulawesi, 84 hektar di Maluku dan Irian Jaya.

Total produksi bawang putih nasional tahun 1982 mencapai 13.161 ton. Namun, fenomena impor bawang putih ilegal malah menjangkit beberapa wilayah di Indonesia. 

Tenyata kebutuhan bawang putih di pasaran membludak melebihi batasnya. Bawang putih telah menjadi rempah rempah favorit bagi masyarakat Indonesia.

Apalagi sebagian besar masakan Indonesia memerlukan bawang putih sebagai bahan penyedap rasa.

Sekitar awal abad ke-16, pembudidayaan bawang putih diterapkan di Inggris. Setelah itu budidaya bawang putih diperkenalkan ke belahan dunia lainnya seperti Spanyol, Bulgaria, Mesir, Jepang, Brazilia, Meksiko, California, Filipina dan Rumania.

Sekitar abad ke-19, budidaya bawang putih mulai diperkenalkan di Nusantara. Ketika impor bawang putih ilegal semakin liar, pemerintah Indonesia berupaya mengatasinya dengan mengeluarkan peraturan Republik Indonesia No.15 tahun 1991 tentang standar nasional Indonesia.

Peraturan ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan daya guna produksi serta menjamin mutu produk.

Baca Juga:

  1. Resep Korean Garlic Cheese Bread, Lembutnya Keju dan Gurihnya Bawang Putih Bersatu
  2. Ampuh Atasi Kolesterol Tinggi, Ini Khasiat Campuran Lemon dan Bawang Putih
  3. Sejarah Lada, Sang Raja Rempah-Rempah Indonesia

Pemerintah seolah olah memberlakukan Policy Impor, berusaha membangkitkan sektor agraris dalam negeri tanpa memahami jika produktivitas sayur-sayuran dan buah-buahan dalam negeri tidak mampu menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat Indonesia.

Sebuah opini koran Jawa Pos bertanggal 1 Mei 1991 memaparkan penjelasan nilai ekonomis bawang putih. Penulisnya Dosen Agribisnis dari Universitas Brawijaya, Dr Soekartawi, menganalisis masalah bawang putih di Malang Selatan.

Adanya kasus penyelundupan secara ilegal menandakan daya beli masyarakat Indonesia yang tinggi terhadap bawang putih.

Petani-petani bawang putih di Indonesia yang menghasilkan tumpukan bawang putih ternyata tidak mampu memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat sehingga harga bawang putih melonjak.

Semua tidak terlepas dari kegunaan bawang putih yang beragam dari sebagai obat-obatan hingga bumbu penyedap makanan.

Para tengkulak menyiasatinya dengan melakukan penyelundupan bawang putih ilegal dari luar negeri.

Komoditas bawang putih yang menggiurkan merupakan sebab-akibat dari kasus-kasus penyelundupan semacam itu. Menurut Dr Soekartawi dalam opininya, bawang putih tergolong tanaman manja.

Ketersediaan bibit unggul dan hambatan panca usaha tani menjadi kesulitan tersendiri bagi para petani untuk bisa memanen berton-ton bawang putih.

Bibit unggul harus melewati proses penyimpanan yang relatif lama, sebab umbi bawang putih mempunyai ciri spesial yakni masa istirahat.

Masa penantian yang cukup lama yakni 8 bulan, itu merupakan kendala utama bagi petani. Para petani menyiasatinya dengan membeli bibit dari orang lain yang belum diketahui telah melewati masa istirahat atau belum.

Pemilihan bibit yang kurang baik ditambah lagi teknik bercocok tanam yang kurang efisien membuat produktivitas per-hektarnya rendah.

Continue Reading

Histori

Kartini dan Kondisi Sosial Budaya Perempuan Jawa dalam Jerat Feodalisme

Published

on

By

ilustrasi Kartini

Kata perempuan berasal dari kata empu, yang bermakna dihargai, dipertuan, atau dihormati, sedangkan kata wanita berasal dari wan yang berarti nafsu, dalam Bahasa Jawa (Jawa Dorsok) kata wanita berarti berani ditata. 

Menurut S. Margana dan Nursam dalam buku Kota-Kota di Jawa: Identitas, Gaya Hidup dan Permasalahan Sosial, karakter perempuan Jawa sangat identik dengan budaya Jawa seperti bertutur kata halus, tenang, diam (kalem), tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan, pengendalian diri tinggi, daya tahan untuk menderita tinggi, memegang peranan secara ekonomi dan setia.

Beberapa ciri khas orang Jawa lainnya yaitu sabar lan neriman (sabar dan menerima dengan lapang dada).

Sikap tersebut membuatsebagian besar perempuan Jawa selalu menerima apa yang telah menjadi kodratnya sebagai seorang perempuan.

Meskipun hal itu justru membuat perempuan Jawa cenderung dianggap lemah kedudukannya jika dibandingkan dengan laki-laki.

Ada beberapa konsepsi paternalistik yang berkembang dalam masyarakat Jawa bahwa perempuan Jawa sebagai istri adalah konco wingking. 

Istilah konco wigking tersebut berarti bahwa perempuan berada di belakang laki-laki. Seolah kedudukan perempuan lebih rendah dibandingkan dengan kedudukan laki-laki.

Cora Vreede-de Stuers dalam buku Sejarah perempuan Indonesia Gerakan dan Pencapaianya menulis, pada masa penjajahan, ada beberapa peraturan yang mengekang warga Indonesia sehingga menciptakan sebuah kelas-kelas tertentu.

Salah satu dari peraturan itu mengatakan bahwa, seorang yang terpandang dalam masyarakat dan menjabat sebagai pemimpin harus menikahi seorang yang berdarah ningrat juga.

Dari sini dapat disimpulkan ada kelas-kelas tertentu yang mempunyai keistimewaan, sedangkan para kaum pribumi yang tak mempunyai kekuasaan hanya dapat menerima apa yang di tentukan oleh pihak penjajah.

Sehingga dengan adanya peraturan tersebut mau tidak mau Sosroningrat harus menikah lagi dengan putri seorang bangsawan. Hal itu berdampak pada R.A. Ngasirah yang berasal dari keluarga biasa, sehingga ia harus menerima keputusan tersebut dan rela untuk dipoligami.

Budaya poligami, pingitan, perjodohan dan berbagai perlakuan tidak adil lainnya dialami oleh mereka. Sistem adat yang syarat dengan ideologi patriarki membuat perempuan Jawa menjadi kaum yang tertindas.

Sehingga menyebabkan mereka harus terkurung dan terkucilkan dari dunia luar dan menerima apa yang diperintahkan kepada mereka.

Mereka tidak mengetahui bagaimanakah keadaan dunia luar yang akan menunggu mereka dan permasalahan-permasalahan yang mungkin saja dapat terpecahkan oleh ide-ide wanita yang cerdas dan dianggap sebelah mata oleh kaum lelaki ini.

Mengenai kedudukan sosial kaum perempuan Indonesia pada masa kolonial, ternyata sangat memprihatinkan.

Rendahnya status sosial perempuan tersebut diperburuk oleh adat, khususnya yang menyangkut budaya pingitan yang menutup ruang gerak mereka. Perlakuan lainnya adalah poligami yang dapat menyudutkan kedudukan kaum perempuan.

Dalam konstruksi budaya Jawa peranan perempuan hanya berkisar pada tiga kawasan yaitu di sumur (mencuci dan bersih-bersih), di dapur (memasak) dan di kasur (melayani suami). Atau dengan perkataan lain peranan perempuan adalah macak, masak dan manak.

Lebih jauh gambaran perempuan Jawa adalah sebagai konco wingking, yaitu sebagai pembantu yang melayani suami untuk urusan belakang. Karena peranannya yang marjinal tersebut maka perempuan tidak perlu mendapatkan pendidikan yang tinggi.

Keadaan perempuan Indonesia, khususnya di Jawa sebelum adanya Kartini dapat dikatakan sedikit sekali gadis-gadis yang pergi ke sekolah.

Semua kebebasan yang dimiliki gadis-gadis hilang dan lenyap pada usia menjelang kawin, yaitu pada usia sepuluh atau dua belas tahun.

Ketika itu, menurut Idjah Chodijah dalam buku Rintihan Kartini, perempuan sangat terkekang dalam adat budaya Jawa yang harus dianut, hal tersebut memunculkan sebuah ketidakadilan gender yang berdampak pada perempuan seolah-olah perempuan tidak mempunyai peran penting dan hanya bisa melakukan kegiatan yang sesuai dengan peraturan budaya Jawa.

Baca Juga:

  1. Gamelan Jawa Mengarungi Gelombang Sejarah
  2. Edelweiss Jawa, Si Cantik Abadi yang Terancam Punah
  3. Tapa Puasa: Cara Masyarakat Jawa Kuno Melakoni Puasa Sebelum Islam Datang

Seperti surat yang Kartini tulis kepada Nyonya Van Kol pada Agustus 1901, yang dikutip dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

“Pernikahan seharusnya menjadi panggilan hidup, kini berubah menjadi sumber penghidupan. Dan aduhai, banyak perempuan Jawa yang harus menikah dengan perjanjian yang menghinakan dan merendahkan dirinya sendiri. Di bawah perintah ayah, paman atau kakaknya, anak perempuan harus bersedia mengikuti seorang laki-laki yang sama sekali asing baginya, bahkan tidak jarang sudah beranak istri. Seorang perempuan harus patuh, tanpa perlu didengar pendapatnya. Seorang perempuan tidak perlu hadir dan tidak dibutuhkan persetujuannya ketika dinikahkan”.

Perasaan teriris dan miris yang Kartini rasakan menggugahnya untuk membangkitkan kesadaran perempuan Jawa khususnya dan perempuan Indonesia yang lainnya untuk bergerak membebaskan diri terutama dalam bidang pendidikan agar setara dengan laki-laki.

Kehidupan Kartini sendiri sebenarnya tidaklah sebebas sebagaimana saudaranya yang laki-laki.

Seorang laki-laki di lingkungan feodal dapat terbang jauh seperti burung yang keluar dari sangkarnya. Berbeda dengan kondisi wanita yang selalu dibatasi dengan batasan yang ketat. Hidup di lingkungan feodal membuat Kartini merasa terbatasi gerak-geriknya.

Kartini juga mengalami masa pingitan seperti tradisi kaum feodal pada umumnya ketika ia berusia 12 tahun.

Kartini berada dalam jeratan pingitan selama empat tahun, mulai tahun 1892 sampai 1896.

Atas desakan Nyonya Ovink akhirnya Kartini dikeluarkan dari pingitannya meskipun Kartini belum mempunyai calon suami sebagaimana adat feodal jika melepaskan putrinya dari pingitan harus ada laki-laki yang menikahinya.

Kartini dengan segala kemampuannya terus bekerja keras untuk menghilangkan sistem feodalisme yang kurang memanusiakan manusia dan dinilainya sebagai bentuk diskriminasi khususnya untuk perempuan.

Di Indonesia sendiri feminisme sudah berkembang sebelum kemerdekaan Indonesia melalui perjuangan Kartini yang mengusung tema emansipasi wanita.

Perjuangan Kartini secara tidak langsung membuat banyak perempuan terinspirasi olehnya dan mulai memunculkan gerakan-gerakan yang mengusung kesetaraan gender.

Dari sini dapat dilihat bahwa ketika kondisi perempuan memprihatinkan dan membutuhkan figur seseorang yang dapat mendobrak tradisi yang mengungkung perempuan saat itu, muncullah sosok Kartini yang diharapkan dapat menjunjung tinggi derajat perempuan dan menginspirasikan perempuan masa kini.

Continue Reading

LATEST NEWS

Lifestyle20 jam ago

Anak Kecanduan Gadget? Simak 6 Tips Menghentikannya

Saat ini, anak-anak sudah menjadi lebih terbiasa bermain dengan gadget daripada bermain di luar. Mereka kecanduan game mobile, televisi, dan...

CityView1 hari ago

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata...

Hangout1 hari ago

Museum PETA, Simbol Penghargaan untuk Pejuang Tanah Air

Museum PETA yang berada di Bogor merupakan destinasi wisata sejarah yang dapat kalian kunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan Indonesia....

Bisnis2 hari ago

Mantan Bos Bukalapak Ungkap Penyebab Ramai Perusahaan StartUp Tumbang

Perusahaan startup secara bersamaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya beberapa waktu lalu. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi yang...

Teknologi2 hari ago

Mulai 1 Juli 2022, Beli Pertalite Wajib Daftar di Aplikasi Pertamina

Mulai 1 Juli 2022, aplikasi My Pertamina bakal menjadi syarat bagi pembeli untuk mereka dapat membeli bahan bakar minyak (BBM)...

Sosial-Budaya2 hari ago

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara...

CityView2 hari ago

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa...

Internasional3 hari ago

Sebar Hoaks Tentang Operasi Militer Spesial ke Ukraina, Rusia Denda Google Rp18 Miliar

Google dikabarkan telah didenda senilai 68 juta rubel atau sekitar Rp 18 miliar oleh pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor. Di mana...

Internasional3 hari ago

Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan tiba di Munich International Airport, Munich, Jerman,...

Edukasi1 minggu ago

Pandemi dan Era Kenormalan Baru, Ini Sisi Tumpul Pembelajaran Virtual

Sejak 13 Juli 2020 lalu, sekolah memasuki masa aktif tahun ajaran baru 2020/2021. Pada masa pemantauan (transisi) kasus pandemik covid...

Internasional1 minggu ago

Mantan Presiden Rusia: AS Harus Merangkak & Memohon

Pernyataan kontroversial kembali dikeluarkan oleh Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Kali ini ia mengatakan untuk berdiskusi soal pengurangan senjata nuklir,...

Hangout1 minggu ago

Roti Gambang, Disebut Bantalan Rel, Ternyata Terbaik di Dunia

Cityzen punya bayangan yang jelas apa itu roti? Namun, pernahkah Cityzen -terutama anak-anak muda generasi Z- mendengar atau mencicipi roti gambang? Bagi...

Kesehatan-Kecantikan1 minggu ago

Dilegalkan di Thailand, Ini Ragam Efek Ganja bagi Tubuh

Kini ganja telah menjadi barang legal di Thailand. Seusai pelegalan itu, bahkan Bangkok menggelar pameran ganja dan rami 360 derajat...

Properti1 bulan ago

Tahun 2022 Jadi Momentum Kebangkitan Sektor Properti

Perusahaan riset, konsultasi, dan manajemen properti Knight Frank Indonesia menyebut tahun 2022 ini sebagai tahun kebangkitan sektor properti. Berbagai kendala...

Properti1 bulan ago

Ayo Serbu, Ada Rumah Tapak Rasa Apartemen di Tanjung Barat

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan kalangan pengembang seiring perubahan tren dan lifestyle masyarakat perkotaan. Konsep hunian rumah tapak dengan desain...

Internasional1 bulan ago

Insiden Penembakan Maut di Sekolah Dasar Texas, 18 Anak & 3 Orang Dewasa Tewas

Para pejabat setempat mengatakan jumlah korban penembakan di sebuah sekolah dasar (SD) (sebelumnya ditulis TK) di South Texas, Amerika Serikat...

Traveling2 bulan ago

Museum Radya Pustaka, Museum Tertua di Solo yang Masih Menyimpan Hadiah Napoleon Bonaparte

Jika Cityzen jalan-jalan ke Kota Solo, boleh mampir sejenak ke museum tertua di Jawa, yakni Museum Radya Pustaka. Museum ini...

Nasional2 bulan ago

Hampir Sembuh, Ade Armando Tak Sabar Kembali Berjuang

Dosen FISIP Universitas Indonesia (UI) dan juga pegiat media sosial, Ade Armando, menjadi korban pengeroyokan saat demo 11 April 2022...

Teknologi2 bulan ago

WhatsApp Rilis 11 Fitur Baru, Begini Cara Pakainya

Pada tahun 2022 ini Whatsapp akan memperkenalkan sejumlah fitur baru yang telah dimilikinya. Berbagai fitur tersebut diciptakan agar dapat meningkatkan...

Internasional2 bulan ago

Mengerikan, Begini Penampakan Kuburan Massal Rusia & Ukraina

Perang antara Rusia dengan Ukraina menyebabkan penderitaan bagi seluruh penduduknya, terutama warga sipil. Pihak Ukraina pun melaporkan di sekitaran ibu...

Nasional2 bulan ago

Antisipasi Lonjakan Pemudik, Kemenkes Siapkan 13.968 Fasilitas Kesehatan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan 13.968 fasilitas kesehatan guna mengantisipasi pemudik yang sakit atau memerlukan pertolongan medis secara cepat dan memadai....

Trending