Connect with us

Edukasi

Pandemi dan Era Kenormalan Baru, Ini Sisi Tumpul Pembelajaran Virtual

Published

on

ilustrasi e-learning

Sejak 13 Juli 2020 lalu, sekolah memasuki masa aktif tahun ajaran baru 2020/2021. Pada masa pemantauan (transisi) kasus pandemik covid -19 ini, sebagaian besar sekolah pun terdorong untuk melakukan aktivitas MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) secara virtual. KBM (kegiatan belajaran mengajar) pun belum dapat sepenuhnya berjalan normal.

Saya sempat termenung, membayangkan apakah pembelajaran yang saya terapkan nanti akan efektif? Terlebih siswa baru sepenuhnya belum saya kenal. Karena, bagi saya perkenalan personal secara hakiki adalah pintu menuju keberhasilan KBM, terlebih dalam model virtual learning atau jarak jauh atau daring.

Namun, yang menjadi menarik dari kondisi ini ialah kesempatan untuk melihat keefektifan model pembelajaran virtual bagi pendidikan, khususnya pendidikan formal tingkat dasar-menengah.

Itikad baik pemerintah tatkala mencetuskan program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pun Belajar dari Rumah (BDR) demi memutuskan penularan virus covid-19 tentu tak dapat dipungkiri keutamaannya.

Terlepas dari itu, apabila virtual learning dianggap sebagai big deal model pendidikan saat ini dan nanti, maka perlu diperbincangkan kemungkinan-kemungkinan ketercapaiannya.  

Sebagaimana gerakan A.W Tony Bates, dalam Teaching In Digital Age (2015) di Canada ketika mengembangkan model pembelajaran digital di kampus, itu dilakukan melalui banyak tahap seperti kajian ulang mengenai paradigma pendidikan, ilmu pengetahuan, dan keadaan masyarakat.

Tidak dimungkiri, pembelajaran virtual sangat efektif dalam memperluas ruang pembelajaran.

Seperti penjelasan Prof. Dr. Paulina Pannen, M.Ls dalam Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, bahwa penerapan pembelajaran virtual sebagaimana “kelas maya”  bertujuan untuk mengatasi keterpisahan ruang dan waktu antara siswa dan guru

Untuk itu, gaya instruksional, penugasan, atau pun transfer knowledge tentu dapat dilakukan secara virtual dan distance sebagaimana online course, serta tayangan tutorial-tutorial bersifat teknis yang marak di youtube.

Baca Juga:

  1. Hindari Distraksi, Ini Tips yang Bisa Kamu Lakukan Saat Tugas Menumpuk
  2. Asesmen Nasional Tingkat SMP, Pembelajaran Tatap Muka Tetap Berjalan
  3. Nadiem: Pembelajaran Jarak Jauh Merusak Anak

Akan Tetapi, apakah aspirasi pendidikan bangsa secara filosofi maupun kurikulum dapat terpenuhi melalui model tersebut?

Karakter: Poros Utama Pendidikan

Pada kenyataan kurikulum, dimensi ketercapaian siswa khususnya di pendidikan menengah, tidak sebatas pada kognisi (knowledge), tapi juga sikap dan keterampilan. Terlebih, penguatan pendidikan karakter (PPK) merupakan poros pendidikan yang telah dicanangkan kemendikbud sejak 2016 lalu.

Secara resmi, Kemendikbud telah merumuskan lima nilai karakter utama yakni religius, nasionalis, integritas, gotong royong, dan mandiri, yang perlu ditanamkan dalam kepribadian siswa.

Saya tidak menyatakan model pembelajaran virtual gagal dalam menunjang kompetensi sikap dan keterampilan siswa.

Namun, perlu dipastikan kembali tentang apa yang siswa dapat -kecuali otaknya bekerja- ketika duduk di depan layar komputer, televisi, maupun gawai. Artinya, hal yang perlu dihindarkan adalah kecenderungan siswa menjadi “objek” teknologi digital, agar  dampak kontraproduktif bagi kepribadian mereka tak terjadi.

Pemerintah tentu telah menyadari hal tersebut, seperti yang disosialisasikan dalam Buku panduan BDR Melalui TVRI 13 -19 Juli 2020, bahwa program BDR menekankan kompetensi literasi dan numerasi, juga membangun kelekatan dan ikatan emosional dalam keluarga, khususnya antara orang tua/wali dengan anak, melalui kegiatan-kegiatan menyenangkan serta menumbuhkan karakter positif.  

Pada konteks ini, fungsi virtual learning termasuk program tayangan TV sebagai alternatif pembelajaran harus lebih dari sekadar penebas jarak, yang mungkin hanya dapat menumbuhkan karakter mandiri (dalam berpikir) siswa.

Pertemuan: Menjalin Spirit Guru dan Murid

Keterlibatan guru dan siswa dalam suatu momen bersama menjadi penting untuk membangun karakter siswa secara utuh.

Sebagaimana ajaran yang telah diwariskan oleh Ki Hadjar Dewantara, bahwa guru memberi tauladan di hadapan siswa (Ing Ngarso Sung Tulodo), memberi spirit di tengah-tengah siswa (Ing Madya Mangun Karso), dan menunjang “perjalanan” siswa dari belakang (Tut Wuri Handayani ).

Begitu multidimensinya posisi guru, menyebabkan mereka dan siswa harus terjalin dalam kondisi yang “intim”.

Pandangan tersebut sejalan dengan paradigma pendidikan pesantren.  Hipzon Putra Azma, M.Hum (pengamat kebudayaan Islam) menjelaskan dalam sebuah Gelar Wicara, bahwa sebagaimana “halaqah” dalam tradisi di pondok pesantren, pertemuan siswa-guru atau kiai-santri mutlak harus terjadi.

Bahkan, momen hidup bersama dalam suatu komunitas merupakan model penanaman karakter yang paling mendasar.

Wacana Pendidikan dan Realitas Masyarakat

Pada konteks pendidikan karakter ini, peran keluarga terlebih dalam program BDR otomatis menjadi keutamaan.

Maka, keadaan yang membuat siswa berjarak dengan sekolah atau guru, harus ditanggapi dengan sikap menerima, bahwa kurikulum akan terkikis otoritasnya dan tunduk pada keorganikan lingkungan keluarga.

Sebab, latar belakang siswa yang beragam pun menjadi tantangan bagi perumusan konsep pembelajaran yang tepat sasaran.

Kenyataan bahwa terdapat siswa berasal dari keluarga underprivileged, atau bahkan sebagian besar siswa berasal dari panti asuhan (asrama), maka penerapan pembelajaran akan lebih “unik “dari yang telah diagendakan secara umum.

Konsep-konsep pembelajaran virtual harus dikaji berdasarkan kenyataan tersebut. Sebab boleh jadi siswa dalam konteks kelas menengah ke bawah, akan lebih memilih membantu keluarganya berdagang di pasar, membantu ibunya mencuci pakaian, memijat punggung ayahnya yang letih pasca “narik ojek”, atau membersihkan lingkungan panti/pondok, ketimbang harus berlama-lama memegang gawai, mengerjakan tugas rangkuman makalah “virus covid-19”, atau sekadar menyimak tayangan “cara hitung cepat” di TV .

Saya jadi berpikir tentang dampak aktivitas pembelajaran tatkala Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sejak maret lalu. 

Apakah siswa nantinya akan menjadi pribadi yang penuh otaknya, namun individualis dan kering karakternya?

Bagaimana mungkin kedewasaan beragama dan bernegara siswa dapat terbangun dengan hanya melihat tayangan visual, menerima runtutan tugas di WA, menyimak “omongan” di zoom, tanpa atmosfer komunal seperti yang terjadi di sekolah?

Bagaimana mungkin membangun kebiasaan gotong royong siswa melalui seberkas fail dalam google classroom?

Bagaimana caranya guru memupuk integritas siswa, tanpa mendorong dan menemani siswa secara langsung dari hari ke hari?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menumbuhkan potensi kesimpulan bahwa keefektifan pembelajaran virtual bagi pembangunan karakter siswa masih “tumpul”.

Tentu perlu riset lebih jauh untuk melihat potensi kesimpulan ini objektif atau tidak. 

Tulisan ini hanya sebatas “godaan”, untuk kita melihat kembali apakah pembelajaran virtual telah berdialog dengan wacana-wacana pendidikan serta kenyataan keluarga yang telah berlangsung di masyarakat. Sehingga, orientasi pendidikan karakter bangsa tidak benar-benar terkikis.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edukasi

Benarkah Islam Nusantara Dijadikan Upaya Pribumisasi Islam Ala NU?

Published

on

By

ilustrasi islam rahmatan lil alamin

Bermula dari tema muktamar Nahdlatul Ulama’ (selanjutnya disebut NU) ke-33 Agustus 2015 di Jombang, Islam Nusantara menjadi sangat populer. Wacana tentang Islam Nusantara menuai banyak perdebatan di kalangan para intelektual muslim.

Wacana Islam Nusantara bisa saja diperselisihkan. Islam sebagai substansi ajaran yang turun di Makkah lalu tersebar ke Madinah dan ke daerah-daerah lain. Seperti Yaman, Mesir, Irak, India, Pakistan hingga sampai ke Indonesia dan seluruh dunia. Islam yang menyebar kemudian bertemu dengan budaya setempat.

Pada mulanya, Islam di Makkah bertemu dengan budaya Makkah. Menurut Quraish Shihab dalam Islam Nusantara di Mata Quraish Shihab (2015), akulturasi antara budaya dan agama kemudian oleh Islam dibagi menjadi tiga.

Pertama, adakalanya Islam menolak budaya setempat. Kedua, Islam merevisi budaya yang telah ada. Ketiga, Islam hadir untuk menyetujui budaya yang telah ada tanpa menolak dan tanpa merevisinya.

Melihat pemaparan yang telah diuraikan oleh Quraish Shihab, dapat diambil kesimpulan secara garis besar bahwa ketika ada budaya di Nusantara yang bertentangan dengan Islam maka dengan tegas harus ditolak, seperti memuja pohon, atau benda-benda yang dianggap keramat yang telah mengakar kuat pada masyarakat Nusantara.

Atau meluruskannya seperti tradisi sedekah bumi yang semula bertujuan menyajikan sesajen untuk para danyang dirubah menjadi ritual tasyakuran dan sedekah pada fakir miskin.

Dan jika ada budaya yang sesuai dengan syari’at Islam maka diterima dengan lapang dada. Seperti, ziarah kubur dalam rangka mendoakan mayit, meneladaninya serta dzikrul maut (mengingat mati).

Islam Nusantara sesungguhnya hanya penyerdehanaan dari tipologi Islam Indonesia hasil perpaduan anatara Islam dengan kebudayaan Nusantara.

Nusantara dalam prespektif ini bukanlah hanya pada konsep geografis, lebih jauh dari itu Nusantara merupakan encounter culture (pusat pertemuan budaya) dari seluruh dunia.

Mulai dari budaya Arab, India, Turki, Persia termasuk dari budaya Barat yang melahirkan budaya dan tata nilai yang sangat khas.

Oleh karena itu, Nusantara bukan sebuah konsep geografis melainkan sebuah konsep filosofis dan menjadi prespektif atau wawasan sebuah pola pikir, tata nilai dan cara pandang dalam melihat dan menghadapi budaya yang datang.

Kajian Islam Nusantara bukan sekedar kajian terhadap kawasan Islam, tetapi lebih penting lagi merupakan kajian terhadap tata nilai Islam yang ada di kawasan Nusantara yang telah tumbuh dan dikembangkan oleh para wali dan ulama sepanjang sejarahnya.

Mulai dari Samudera Pasai, Malaka, Palembang, Banten, Jawa. Islam yang datang ke Nusantara merupakan Islam yang sudah paripurna karena telah mengalami dialog intensif dengan berbagaii peradaban besar dunia seperti Persia, Turki, India sehingga ketika sampai ke Nusantara telah tampil dalam kondisi yang paling paripurna. Islam model seperti itulah yang kemudian diajarkan di berbagai pesantren.

Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di Nusantara dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras.

Islam di Nusantara di dakwahkan dengan cara merangkul budaya, meyelaraskan budaya, menghormati budaya, dan tidak memberangus budaya.

Dari pijakan itulah NU akan bertekad mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, damai, terbuka dan toleran.

Memaknai Islam Nusantara adalah Islam yang khas ala Indonesia yang merupakan gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya dan adat istiadat di Nusantara.

Karakter Islam Nusantara menunjukkan adanya kearifan lokal di Nusantara yang tidak melanggar ajaran Islam, namun justru menyinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Nusantara.

Pertemuan Islam dengan tradisi Nusantara itu kemudian membentuk sistem sosial, lembaga pendidikan (seperti pesantren). Tradisi itulah yang kemudian disebut dengan Islam Nusantara, yakni Islam yang telah melebur dengan tradisi budaya Nusantara

Islam Nusantara dimaksudkan sebuah pemahaman keislaman yang bergumul, berdialog, dan menyatu dengan kebudayaan Nusantara dengan melalui proses seleksi dan akulturasi serta adaptasi.

Islam yang dinamis dan bersahabat dengan kultur dan agama yang beragam. Islam Nusantara bukan hanya cocok diterima orang Nusantara tetepi juga memberikan warna bagi budaya Nusantara sebagai sifat akomodatifnya yakni rahmatan lil alamin.

Menyimak wajah Islam di dunia saat ini, Islam Nusantara sangat dibutuhkan. Karena ciri khasnya mengedepankan jalan tengah dan bersifat tawasut (moderat) tidak ekstrem, selalu seimbang dan inklusif, toleran dan bisa berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik.

Baca Juga:

  1. Mendengar Tembang Dakwah Sunan Drajat, Si Sunan yang Gemar Mencipta Lagu
  2. Pondok Pesantren dan Perkembangannya dalam Pendidikan Indonesia
  3. Kala Demak Merangkak

Model Islam Nusantara itu bisa dilacak dari sejarah kedatangan ajaran Islam ke Nusantara yang diikuti oleh proses pribumisasi, sehingga Islam menjadi tertanam dalam budaya Nusantara.

Dalam konteks ini, budaya suatu daerah atau negara tertentu menempati posisi yang setara dengan budaya Arab delam menyerap dan menjalankan ajaran Islam.

Suatu tradisi Islam Nusantara menunjukkan suatu tradsisi Islam dari berbagai daerah di Indonesia yang melambangkan kebudayaan Islam di daerah tersebut.

Dengan demikian, corak Islam Nusantara tidaklah homogen karena suatu daerah dengan daerah lainnya memiliki ciri khasnya masing-masing tetapi memiliki nafas yang sama (Islam).

Kesamaan nafas yang bernuansa islami merupakan saripati dan hikmah dari perjalanan panjang Islam yang berabad-abad di Nusantara yang telah menghasilkan suatu karakteristik Islam Nusantara yang lebih mengedepankan aspek eksoteris hakikat ketimbang eksoteris syari’at.

Islam Nusantara tidaklah anti budaya Arab, Islam Nusantara tetaplah berpijak pada akidah dan tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad.

Dalam membangun karakteristik Islam Nusantara, peran penyebar Islam di Nusantara seperti Walisongo cukup dominan dalam pembentukan kultur Islam Nusantara.

Para Wali telah mengembangkan Islam yang ramah yang bersifat kultural. Sifat kultural ini bisa terbentuk karena penekanan paraWali atas substansi Islam yang akhirnya bisa membumi kedalam bentuk budaya keagamaan lokal pra Islam.

Proses ini yang disebut K.H. Abdurrahman Wahid pada 1980-an sebagai proses pribumisasi Islam dimana ajaran Islam disampaikan dengan meminjam bentuk budaya lokal.

Pribumisasi Islam ala Wali Songo mengajarkan toleransi dan kesadaran kebudayaan dalam dakwah Islam.

Pola pribumisasi Islam inilah yang akhirnya membentuk perwujudan kultural Islam. Sebagai perwujudan keislaman yang bersifat kultural yang merupakan pertemuan antara nilai-nilai normatif Islam dengan tradisi lokal.

Terkait hal ini, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memperkenalkan pada suatu konsep tentang pribumisasi Islam.

Pribumisasi Islam merupakan proses perwujudan nilai-nilai Islam melalui bentuk budaya lokal. Ini dilakukan baik melalui kaidah fikih (al-adah al-muhakkamah: adat bisa menjadi hukum) maupun pengembangan aplikasi nash (teks suci).

Karenanya, penting sekali melanjutkan rintisan Gus Dur terkait pribumisasi Islam menjadi suatu kerangka manhaj atau metodologi dalam perumusan Islam Nusantara.

Dalam konteks seperti inilah, gagasan Pribumisasi Islam yang pernah ditawarkan oleh Gus Dur dimaksudkan untuk mencairkan pola dan karakter Islam sebagai sesuatu yang normatif dan praktek keagamaan menjadi suatu yang kontekstual.

Dalam Pribumisasi Islam, tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing.

Islam Pribumi dimaksudkan untuk menggerakkan peluang bagi keanekaragaman interpretasi dalam praktek kehidupan beragama (Islam) di setiap wilayah yang berbeda-beda.

Dengan demikian, Islam tidak lagi dipandang secara tunggal, melainkan mejemuk. Tidak ada lagi anggapan bahwa Islam yang berada di Timur Tengah sebagai Islam yang paling benar, karena Islam sebagai agama mengalami historitas yang terus berlanjut.

Continue Reading

Edukasi

Pondok Pesantren dan Perkembangannya dalam Pendidikan Indonesia

Published

on

By

The santri are reading the holy book of the Qur’an in the middle of the night.

Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional. Lembaga ini telah hidup sejak 300-400 tahun yang lampau, menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat muslim.

Pada masa kolonial, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sangat berjasa bagi pribumi Islam. Pesantren menjadi penyedia pendidikan bagi kaum pribumi yang tidak bisa mengakses oendidikan ala barat yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Sejak awal pertumbuhannya, fungsi utama pesantren adalah menyiapkan santri mendalami dan menguasai ilmu agama Islam atau lebih dikenal tafaqquh fial-din, dan melakukan dakwah menyebarkan agama Islam serta benteng pertahanan umat dalam bidang akhlak.

Sejalan dengan fungsi tersebut, materi yang diajarkan dalam pondok pesantren semuanya terdiri dari materi agama yang diambil dari kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab atau lebih dikenal dengan kitab kuning.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang memiliki akar kuat pada masyarakat muslim Indonesia, dalam perjalanannya mampu menjaga dan mempertahankan keberlangsungan dirinya serta memiliki model pendidikan multi aspek.

Menurut Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia, pesantren jika disandingkan dengan lembaga pendidikan yang pernah muncul di Indonesia, merupakan sistem pendidikan tertua dan dianggap sebagai produk budaya Indonesia.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang dimulai sejak munculnya masyarakat Islam di Nusantara.

Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan munculnya tempat pengajian. Bentuk ini kemudian berkembang dengan pendirian tempat-tempat menginap para santri yang kemudian disebut pesantren.

Meskipun bentuknya masih sangat sederhana, pada waktu itu pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang terstruktur sehingga pendidikan ini dianggap sangat bergengsi.

Di lembaga inilah kaum muslimin Indonesia mendalami doktrin dasar Islam, khususnya menyangkut praktek kehidupan keagamaan

Awal perkembangan pesantren di Jawa Timur dimulai pada akhir pemerintah Majapahit di daerah Ampeldenta Surabaya.

Perkembangan pesantren di masa-masa selanjutnya tidak terungkap dengan jelas. Batasan tentang penggunaan sebutan pesantren juga belum jelas.

Kriteria tentang pesantren dikembangkan oleh Zamakhsyari Dhofier dengan melihat adanya lima elemen pokok yang harus ada dalam pesantren. Lima elemen tersebut adalah pondok, masjid, santri, pengajaran kitab kuning, dan kiai.

Berdasarkan kriteria tersebut maka Martin Van Bruinessen dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, menyatakan bahwa pesantren yang tertua di Jawa Timur adalah Pesantren Tegalsari di Pacitan yang didirikan pada tahun 1710.

Baca Juga:

  1. Snouck Hurgronje, Penyusup Jubah Agama Dalam Kejatuhan Aceh di Tangan Kolonial
  2. Pena dan Lisan: Mengenal Buya Hamka, Strategi Pendidikan dan Dakwahnya
  3. Peran Sunan Gresik, Si Kakek Bantal dalam Membangun Sistem Irigasi di Tanah Jawa

Di Jawa Timur setelah pesantren Tegalsari tercatat beberapa pesantren besar yang berpengaruh, antara lain Pesantren Sidogiri Pasuruan didirikan tahun 1745, pesantren Panji Siwalan Sidoarjo didirikan tahun 1770.

Pesantren Tremas Pacitan didirikan tahun 1830, Pesantren Langitan Tuban didirikan tahun 1852, Pesantren Jampes Kediri didirikan tahun 1886, Pesantren Guluk-guluk Sumenep didirikan tahun 1887.

Dua pesantren yakni Pademangan Bangkalan dan Maskumambang Gresik tidak diketahui dengan pasti kapan berdirinya, tetapi diperkirakan pada pertengahan abad 19.

Di antara pesantren tesebut Pesantren Tremas, Langitan, Panji Siwalan, dan Pademangan Bangkalan adalah pesantren yang melahirkan kiai-kiai besar dan pesantren induk pada periode ini.

Usaha dakwah yang lebih berhasil di Jawa terjadi pada abad ke-14 M yang dipimpin oleh Maulāna Mālik Ibrāhīm dari tanah Arab. Menurut sejarah, Maulāna Mālik Ibrāhīm ini adalah keturunan Zainal Abidin (cicit Nabi Muhammad).

Ia mendarat di pantai Jawa Timur bersama beberapa orang kawannya dan menetap di kota Gresik. Sehingga pada abad ke-15 telah terdapat banyak orang Islam di daerah itu yang terdiri dari orang-orang asing, terutama dari Arab dan India.

Di Gresik, Maulāna Mālik Ibrāhīm tinggal menetap dan menyiarkan agama Islam sampai akhir hayatnya tahun 1419 M.

Sebelum meninggal dunia, Maulāna Mālik Ibrāhīm (1406-1419) berhasil mengkader para muballig dan di antara mereka kemudian dikenal juga dengan wali.

Para wali inilah yang meneruskan penyiaran dan pendidikan Islam melalui pesantren. Maulāna Mālik Ibrāhīm dianggap sebagai perintis lahirnya pesantren di tanah air yang kemudian dilanjutkan oleh Sunan Ampel.

Sering kita mengetahui dalam catatan sejarah dinyatakan bahwa sejarah perkembangan pesantren di Indonesia sangat erat kaitannya dengan sejarah Islam di Indonesia sendiri.

Pada masa Wali Songo yang menggunakan pesantren sebagai salah satu tempat Islamisasi masyarakat Indonesia, dan di sisi lain pesantren menyemaikan semangat perlawanan terhadap penjajah (nasionalisme).

Pesantren dikembangkan secara luas oleh Wali Songo di tanah Jawa, yang mana dikatakan bahwa pelopor pertamanya ialah Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Maulana Maghribi (Gresik) yang diyakini sebagai orang pertama dari sembilan yang terkenal dalam penyebaran Islam di Jawa,

Akan tetapi, pada perkembangan berikutnya tokoh paling sukses dalam pengembangan pondok pesantren ialah Sunan Ampel (Raden Rahmat), yang kemudian menelurkan beberapa pondok Wali Songo lainnya, seperti Pesantren Giri, Pesantren Demak, Pesantren Tuban, Pesantren Derajat dan pesantren-pesantren lain di Nusantara.

Dengan demikian, dalam sejarah perjalanannya, pesantren telah berhasil melakukan upaya-upaya kontekstualisasi ajaran Islam dengan budaya lokal.

Kalangan pesantren pada masa awal Islam, telah dapat menampilkan sekaligus mengajarkan Islam yang dapat bersentuhan mesrah dengan nilai-nilai, keyakinan, dan ritual pra Islam.

Malahan dalam beberapa kasus, keyakinan-keyakinan dan ritus-ritus tersebut, dipertahankan dan dipraktikkan dengan diberi muatan dan corak Islami oleh sebagian masyarakat Muslim hingga saat ini.

Dari gambaran di atas, jelaslah bahwa pesantren yang merupakan lembaga pendidikan di Indonesia, yang tumbuh dan berkemban sejak ratusan tahun lalu, masih eksis dan dibutuhkan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia.

Secara umum perkembangan pesantren meningkat dengan cepat pada awal abad 20 karena banyaknya orang yang pulang dari menunaikan ibadah haji pada akhir abad 19.

Beberapa orang di antara haji tersebut berhasil mendirikan pesantren yang menjadi besar dan memiliki santri cukup banyak tersebar di seluruh wilayah Jawa Timur. Pesantren tersebut antara lain Tebuireng, Rejoso, Lirboyo, Sukorejo, dan Gontor (Pondok Modern Gontor, 1941).

Pola hubungan antar pesantren di Jawa Timur didasarkan atas tiga hal. Pertama hubungan kekerabatan antar kiai, kedua, hubungan guru-murid, dan ketiga hubungan kesejawatan antar santri.

Perpaduan tiga pola hubungan antar pesantren membentuk jaringan di seluruh wilayah Jawa Timur, yang dalam penelitian ini disebut sebagai jalinan mata rantai pesantren.

Perpaduan pola tersebut juga memberikan gambaran perkembangan pesantren secara kuantitatif yakni dalam jumlah dan perluasan penyebaran di wilayah Jawa Timur.

Dengan demikian, peta penyebaran pesantren di Jawa Timur abad 20 dapat diketahui sekaligus juga mununjukkan peran silsilah pesantren dalam memperkuat jalinan mata rantai pesantren tersebut.

Perkembangan pesantren di Jawa Timur pada abad 20 tidak lepas dari keberadaan pesantren besar sebelum abad 20, yakni Pesantren Tegalsari, Tremas, Langitan, Panji Siwalan, Pademangan dan Sidogiri.

Para kiai pendiri pesantren induk pada abad 20 merupakan hasil didikannya. Pesantren induk merupakan pesantren yang alumninya banyak mendirikan pesantren baru.

Pesantren tersebut adalah Pesantren Tebuireng, Rejoso, Lirboyo, Sukorejo, dan Gontor. Pesantren-pesantren telah memperluas dan memperbesar jalinan mata rantai pesantren di Jawa Timur di masa-masa berikutnya.

Continue Reading

Edukasi

Mengupas Sistem Kurikulum Prototipe, Tak Ada Lagi Jurusan IPA, IPS, & Bahasa

Published

on

kurikulum prototipe
kurikulum prototipe

Kurikulum Prototipe yang akan mulai diterapkan pada tahun 2022. Kurikulum ini diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk dapat melakukan pemulihan pembelajaran dari tahun 2022- 2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada tahun 2024 berdasarkan hasil evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran.

Kurikulum prototipe ini mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberikan ruang yang lebih luas untuk pengembangan karakter dan kompetensi dasar kepada siswa.

Adapun jika didefinisikan secara lebih detail menurut Undang-Undang No 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 19, dijabarkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Baca Juga:

  1. 5 Rekomendasi Pantai Terindah di Pulau Jawa Pilihan MyCity
  2. Pesona Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Maluku Utara
  3. Desa Torosiaje, Kampung Indah di atas Teluk Tomini

Faktanya dua tahun semenjak merdeka, Indonesia telah memiliki kurikulum pertama dalam rangka merancang kelangsungan proses pendidikan agar masyarakat tanah air mulai dapat membentuk karakter dengan latar belakang pendidikan yang berkualitas.

Lebih detail, kurikulum pertama yang dimiliki Indonesia lahir pada tahun 1947 dengan masih menggunakan nama ‘Rencana Pelajaran 1947’. Penggunaan istilah ‘kurikulum’ sendiri baru digunakan pada tahun 1968 dan terus bertahan hingga saat ini.

Lantas, apa yang membedakan Kurikulum Prototipe dengan kurikulum sebelumnya? Kurikulum prototipe memiliki beberapa karakteristik utama yaitu pembentukan karakter yang mendukung pemulihan pembelajaran.

Situasi pandemi yang juga memberi dampak kepada dunia pendidikan memang membuat proses pembelajaran menjadi lebih terhambat. Sekadar informasi, pada saat pandemi pertama kali terjadi pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) telah menghadirkan kurikulum darurat.

Kurikulum darurat sendiri merupakan salah satu pilihan yang dapat diambil oleh pelaksana pendidikan atau dalam hal ini sekolah yang melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) baik untuk jenjang mulai dari PAUD hingga SMA/SMK dengan menyederhanakan kompetensi dasar.

Di saat yang bersamaan, meski ikut melaksanakan PJJ selama pandemi nyatanya tetap ada sekolah yang menggunakan kurikulum 2013 secara penuh.

Hasilnya, Kemendikbud-Ristek melihat bahwa sekolah yang menggunakan kurikulum darurat ternyata lebih maju empat sampai lima bulan baik dari segi kualitas dan waktu pembelajaran dibanding sekolah yang masih menggunakan kurikulum 2013 secara penuh.

Melihat kondisi tersebut, menghadapi tahun 2022 mendatang yang dibarengi dengan target untuk memulihkan pembelajaran secara nasional, akhirnya Kemendikbud-Ristek menghadirkan kurikulum baru yakni Kurikulum Prototipe.

Dalam keterangan resmi yang dipublikasi, dijelaskan bahwa kurikulum prototipe pada dasarnya merupakan lanjutan dari kurikulum darurat. Satu hal yang perlu diperhatikan, sifat kurikulum ini opsional sehingga tidak bisa disebut sebagai kurikulum dasar 2022.

Artinya, setiap sekolah dibebaskan apakah ingin tetap menggunakan kurikulum 2013, kurikulum darurat, atau berpindah ke kurikulum prototipe, selama tetap mengacu pada standar nasional pendidikan di Indonesia.

Anindito Aditomo, selaku Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) menjelaskan, bahwa kurikulum prototipe bertujuan untuk memberi ruang yang lebih luas bagi pengembangan karakter dan kompetensi dasar siswa.

Kurikulum prototipe disebut memiliki tiga karakter utama yang terdiri dari pengembangan kemampuan non-teknis (soft skills) yang mendapat porsi khusus melalui pembelajaran berbasis proyek, berfokus pada materi esensial untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar, dan
fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid.

Ketiga karakter tersebut pada akhirnya memunculkan kondisi bahwa bagi sekolah yang menggunakan kurikulum prototipe di waktu yang akan datang, tidak akan lagi menerapkan pengelompokan berdasarkan penjurusan IPA, IPS, atau Bahasa, karena siswa lebih diarahkan untuk fokus kepada bidang serta minat yang mereka miliki.

Lebih detail, adapun yang dimaksud dengan ‘meramu’ adalah setiap siswa bisa memperkirakan dan memilih sendiri kira-kira mata pelajaran apa saja yang memang cocok dengan rancangan karier dan masa depan yang sudah mereka miliki di waktu yang akan datang.

Misal, ketika ada seorang siswa yang ingin menjadi insinyur, mereka bisa fokus untuk mengambil mata pelajaran matematika lanjutan dan fisika lanjutan tanpa mengambil biologi.

Yang perlu diperhatikan, tetap ada mata pelajaran wajib serta muatan lokal (mulok) yang harus diambil untuk pembentukan karakter di mana mata pelajaran wajib tersebut terdiri dari Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, PJOK, Sejarah, dan Seni.

Continue Reading

LATEST NEWS

Lifestyle20 jam ago

Anak Kecanduan Gadget? Simak 6 Tips Menghentikannya

Saat ini, anak-anak sudah menjadi lebih terbiasa bermain dengan gadget daripada bermain di luar. Mereka kecanduan game mobile, televisi, dan...

CityView1 hari ago

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata...

Hangout1 hari ago

Museum PETA, Simbol Penghargaan untuk Pejuang Tanah Air

Museum PETA yang berada di Bogor merupakan destinasi wisata sejarah yang dapat kalian kunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan Indonesia....

Bisnis2 hari ago

Mantan Bos Bukalapak Ungkap Penyebab Ramai Perusahaan StartUp Tumbang

Perusahaan startup secara bersamaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya beberapa waktu lalu. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi yang...

Teknologi2 hari ago

Mulai 1 Juli 2022, Beli Pertalite Wajib Daftar di Aplikasi Pertamina

Mulai 1 Juli 2022, aplikasi My Pertamina bakal menjadi syarat bagi pembeli untuk mereka dapat membeli bahan bakar minyak (BBM)...

Sosial-Budaya2 hari ago

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara...

CityView2 hari ago

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa...

Internasional3 hari ago

Sebar Hoaks Tentang Operasi Militer Spesial ke Ukraina, Rusia Denda Google Rp18 Miliar

Google dikabarkan telah didenda senilai 68 juta rubel atau sekitar Rp 18 miliar oleh pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor. Di mana...

Internasional3 hari ago

Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan tiba di Munich International Airport, Munich, Jerman,...

Edukasi1 minggu ago

Pandemi dan Era Kenormalan Baru, Ini Sisi Tumpul Pembelajaran Virtual

Sejak 13 Juli 2020 lalu, sekolah memasuki masa aktif tahun ajaran baru 2020/2021. Pada masa pemantauan (transisi) kasus pandemik covid...

Internasional1 minggu ago

Mantan Presiden Rusia: AS Harus Merangkak & Memohon

Pernyataan kontroversial kembali dikeluarkan oleh Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Kali ini ia mengatakan untuk berdiskusi soal pengurangan senjata nuklir,...

Hangout1 minggu ago

Roti Gambang, Disebut Bantalan Rel, Ternyata Terbaik di Dunia

Cityzen punya bayangan yang jelas apa itu roti? Namun, pernahkah Cityzen -terutama anak-anak muda generasi Z- mendengar atau mencicipi roti gambang? Bagi...

Kesehatan-Kecantikan1 minggu ago

Dilegalkan di Thailand, Ini Ragam Efek Ganja bagi Tubuh

Kini ganja telah menjadi barang legal di Thailand. Seusai pelegalan itu, bahkan Bangkok menggelar pameran ganja dan rami 360 derajat...

Properti1 bulan ago

Tahun 2022 Jadi Momentum Kebangkitan Sektor Properti

Perusahaan riset, konsultasi, dan manajemen properti Knight Frank Indonesia menyebut tahun 2022 ini sebagai tahun kebangkitan sektor properti. Berbagai kendala...

Properti1 bulan ago

Ayo Serbu, Ada Rumah Tapak Rasa Apartemen di Tanjung Barat

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan kalangan pengembang seiring perubahan tren dan lifestyle masyarakat perkotaan. Konsep hunian rumah tapak dengan desain...

Internasional1 bulan ago

Insiden Penembakan Maut di Sekolah Dasar Texas, 18 Anak & 3 Orang Dewasa Tewas

Para pejabat setempat mengatakan jumlah korban penembakan di sebuah sekolah dasar (SD) (sebelumnya ditulis TK) di South Texas, Amerika Serikat...

Traveling2 bulan ago

Museum Radya Pustaka, Museum Tertua di Solo yang Masih Menyimpan Hadiah Napoleon Bonaparte

Jika Cityzen jalan-jalan ke Kota Solo, boleh mampir sejenak ke museum tertua di Jawa, yakni Museum Radya Pustaka. Museum ini...

Nasional2 bulan ago

Hampir Sembuh, Ade Armando Tak Sabar Kembali Berjuang

Dosen FISIP Universitas Indonesia (UI) dan juga pegiat media sosial, Ade Armando, menjadi korban pengeroyokan saat demo 11 April 2022...

Teknologi2 bulan ago

WhatsApp Rilis 11 Fitur Baru, Begini Cara Pakainya

Pada tahun 2022 ini Whatsapp akan memperkenalkan sejumlah fitur baru yang telah dimilikinya. Berbagai fitur tersebut diciptakan agar dapat meningkatkan...

Internasional2 bulan ago

Mengerikan, Begini Penampakan Kuburan Massal Rusia & Ukraina

Perang antara Rusia dengan Ukraina menyebabkan penderitaan bagi seluruh penduduknya, terutama warga sipil. Pihak Ukraina pun melaporkan di sekitaran ibu...

Nasional2 bulan ago

Antisipasi Lonjakan Pemudik, Kemenkes Siapkan 13.968 Fasilitas Kesehatan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan 13.968 fasilitas kesehatan guna mengantisipasi pemudik yang sakit atau memerlukan pertolongan medis secara cepat dan memadai....

Trending