Connect with us

Sosial-Budaya

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Published

on

nginang dan alat-alatnya

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara intensif.

Tradisi nyirih memberikan hikmah tentang perjalanan proses keterputusan dan sekaligus kesinambungan sebuah tradisi dari masa lalu.

Sekalipun kini tradisi mengunyah sirih hanyalah fenomena kecil di tengah-tengah masyarakat, bagi yang pernah mengunjungi pelosok-pelosok negeri–dari Sumatra, Sulawesi, ataupun Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara Timur hingga Papua–bisa dipastikan masih akan ditemui kebiasaan ini.

Budaya mengunyah sirih yang sering disebut dalam banyak bahasa daerah, antara lain, “nyirih”, “nginang”, “bersugi”, “bersisik”, “menyepah”, atau “nyusur”, setidaknya hingga kini masih terlihat lazim dilakukan oleh generasi tua, baik laki-laki maupun perempuan, di sejumlah daerah.

Belum diketahui asal-usulnya secara pasti. Konon, tradisi mengkonsumsi sirih dan pinang telah dimulai sejak zaman neolitikum. Sekitar 3.000 tahun yang lalu, hal itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat Asia Tenggara.

Ada pendapat yang beranggapan jika tradisi itu berasal dari India. Namun pandangan lain menyebutkan, tradisi ini kemungkinan berasal dari kepulauan Nusantara. Ini didasarkan pada asumsi, pinang dan sirih sendiri diduga kuat ialah tanaman asli di kepulauan Indonesia.

Selain itu, juga menyimak pentingnya posisi nyirih bagi orang Indonesia terlihat mencapai tingkatan yang lebih dalam ketimbang di daerah lain di seputar Asia. Hal ini tercermin dari hadirnya tradisi nyirih dalam hampir semua ritual. Bahkan menurut catatan Anthony Reid (2018), dari ritual kelahiran, inisiasi kedewasaan, perkawinan, hingga kematian; dari ritual dan praktik penyembuhan, hingga ritual persembahan kepada roh leluhur.

Boleh dikata, di masa lalu mengunyah sirih atau nyirih di Indonesia bukanlah soal preferensi individual, melainkan keniscayaan dari ritus sosial bagi setiap orang dewasa. Tidak menawarkan sirih, atau menolak nyirih saat ditawari, bahkan akan dicap sebagai penghinaan.

Menariknya, di sepanjang daerah di Indonesia bicara bahan untuk menyirih pun nisbi serupa. Secara umum ada tiga unsur utama dari bahan nyirih, yakni pinang, daun sirih, serta kapur sirih yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut “injet”, yang terkadang bahan ini didapatkan dari melumat cangkang kerang.

Yang bisa dikata membedakan tradisi ini di pelbagai wilayah di Nusantara ialah berupa kepercayaan-kepercayaan yang menyertai tradisi itu. Namun, terlepas dari perbedaan itu, pinang dan sirih sejak ribuan tahun tampaknya telah dimuliakan dalam kebudayaan-kebudayaan lokal Indonesia.

Kosa Kata dan Ritual

Potret masa lalu dari fenomena mendarah dagingnya tradisi pinang nyirih ini, bukan saja terindikasi kuat dalam keragaman istilah untuk kedua bahan ini, tapi juga lekat dalam praktik ritual pernikahan adat di Nusantara.

Pinang dan sirih yang istilah dalam bahasa Melayu-nya, atau pineung” dan “ranub” dalam bahasa Aceh, “jambe” dan “suroh” dalam bahasa Jawa, “banda” dan “chanangˆ” dalam bahasa Bali, “rappo” dan “leko” dalam bahasa Makasar, “alossi” dan “ota” dalam bahasa Bugis, serta “hena” dan “bido-marau” dalam bahasa Ternate; dan lain sebagainya.

Terkait dengan ritual adat pernikahan, dari bahasa Melayu istilah ini masuk dalam Bahasa Indonesia modern. Pinang, meminang, yang berarti melamar atau meminta seseorang untuk dinikahi; pinangan ialah berarti meminta pertunangan.

Tampaknya sudah lama dimaknai, berpadunya sirih dan pinang menjadi simbol persetubuhan atau pernikahan. Buah pinang dianggap merepresentasikan unsur “panas” dan daun sirih merepresentasikan unsur “dingin”.

Di Aceh, simbolisasi ini menggunakan daun sirih. Dalam bahasa Aceh, ba ranub artinya “memberikan sirih” yang maknanya ialah “memberikan cinta”. Pria Aceh di masa lalu menceraikan istrinya dengan memberikan tiga lembar daun pinang.

Dalam bahasa Makasar, leko passiko yang artinya “sebungkus daun sirih juga bermakna mengajukan lamaran. Di sana Ibu pengantin perempuan melakukan ritual nyirih di rumah bersama pasangan pengantin di malam pertama; setelah kelahiran anak, ibu baru dan mertuanya melakukan ritual nyirih bersama.

Dalam upacara panggih, adat perkawinan orang Jawa, misalnya, dikenal serangkaian ritual yang menghadirkan daun sirih sebagai perlengkapannya, yakni saat prosesi “balangan suruh”. Di sini daun sirih akan membungkus buah pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau hitam lalu diikat dengan benang lawe.

Baca Juga:

  1. Tepuk Tangan Mawar, Tradisi Adat Melayu untuk Mensyukuri Nikmat dari Allah SWT
  2. Desa Coal, Menikmati Sensasi Alam dan Budaya Desa yang Memanjakan Mata
  3. Perisai Herbal: Jamu Sebagai Pelindung Tradisional bagi Masyarakat Jawa

Orang Jawa menyebut lintingan sirih itu sebagai gantal. Upacara balangan suruh atau gantal yaitu momen ritual panggih ini, sepasang mempelai akan saling melempar suruh sebagai perumpaman kedua mempelai saling melempar kasih dan harapan.

Bahkan, dewasa ini, di kalangan masyarakat yang sudah meninggalkan penggunaan sirih, seringkali masih dijumpai seperangkat daun sirih buatan berbahan perunggu atau perak dipajang di antara perlengkapan pernikahan, dan diserahkan sebagai semacam pernak-pernik perlengkapan untuk tujuan ritual ini.

Catatan Sejarah

Panjangnya usia tradisi nyirih masyarakat Nusantara setidaknya tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih.

Menurut catatan Anthony Reid (2018), pada masa periode Dinasti Tang (7 – 10 M) banyak referensi dari China yang menulis penggunaan dan ekspor pinang dari daerah yang diduga ialah Indonesia.

ChanJu-kua mencatat, di Po-ni (Brunei?) abad ke-12, sirih sering dipakai dalam ritual pernikahan dan seremoni istana. Sedangkan Ma Huan melaporkan tentang Jawa sejak awal abad ke-15.

Di China sendiri, istilah pinang pada masa Dinasti Tang ialah “pin-lang”, yang diduga kuat diambil dari bahasa Melayu, “pinang”. Ini setidaknya menunjukkan area yang pernah didominasi oleh Kerajaan Sriwijaya (Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Borneo barat) adalah sumber komoditas ini.

Hingga abad ke 16 – 17, seturut Anthony Reid, telah banyak ditemukan catatan perihal tradisi nyirih yang dilakukan di hampir semua tempat di Asia tropis. Bahkan karena sirih adalah salah satu item pengeluaran yang dianggap penting, kantung uang yang diterima oleh budak milik Belanda pada abad ke-18 disebut sebagai siriegeld (“uang sirih”). 

Nyirih, boleh dikata menjadi medium tata krama untuk tamu di istana atau desa. Mirip fungsi teh, kopi, atau rokok dewasa ini. Tak hanya itu, nyirih juga jadi simbol ritual utama, obat pencernaan, pasta gigi atau penyegar mulut, atau sebagai obat penenang atau bahkan penangkal rasa lapar.

Tome Pires di abad ke-16 dalam The Suma Oriental mengungkapkan hal ini:

“Nyirih membantu pencernaan, menenangkan otak, memperkuat gigi, sehingga pria yang mengunyahnya biasanya punya gigi yang utuh, tidak ada yang ompong, bahkan sampai usia delapan puluh tahun. Mereka yang nyirih memiliki napas harum, dan jika sehari saja tidak nyirih maka napas mereka menjadi amat bau.”

Beberapa bahan sebagai komposisi tambahan dalam nyirih, merujuk tulisan Anthony Reid, antara lain kamper, cengkeh, pala, ambar (ambergris), kapulaga, dan minyak rusa. Bahan tambahan ini menurutnya sudah tertulis dalam literatur Sansekerta sejak abad pertama masehi.

Namun dalam perjalanannya gambir dan tembakau juga menjadi bahan tambahan dalam tradisi nyirih. Bahkan boleh dikata sejak akhir abad ke-18, dua bahan tambahan ini plus sirih, pinang dan injet, jadi standar yang lazim dalam tradisi nyirih.

Menarik dicatat, kuatnya tradisi nyirih ini membuat bangsa Eropa yang tinggal di Hindia Belanda dulu tak luput juga mengadopsi kebiasaan ini. Persepi bahwa nyirih baik untuk kesehatan gigi tampaknya juga diyakini oleh bangsa Eropa saat itu.

Anthony Reid mencatat, orang-orang Belanda di Batavia mulai meninggalkan kebiasaan nyirih mulai pertengahan abad ke-18, sekalipun kaum perempuannya masih melakukan itu hingga abad ke-19.

Kebiasaan ini menghilang setelah muncul tren baru dalam kebiasaan nyirih, yaitu menjejalkan tembakau ke mulut setelah keluar air liur pertama. Kebiasaan nyirih tampak mulai menjijikan bagi orang Eropa.

Manjelang berakhirnya abad ke-19, perbedaan kultural bangsa Eropa dengan bangsa Indonesia menjadi semakin tajam. Kini bagi orang Eropa, kebiasaan nyirih dan meludahkan bekas tembakau penyumpal mulut dipandang sebagai tanda inferioritas bangsa Indonesia.

Memasuki abad ke-20, sejalan dengan penyebaran pendidikan barat tampaknya berkaitan erat dengan mulai ditinggalkannya kebiasaan nyirih. Seluruh citra modernitas yang dikontruksi oleh pendidikan Belanda bertentangan dengan aktivitas nyirih.

Di Bugis dan Makasar, misalnya, pada 1900 hampir semua orang nyirih, tapi pada 1950 hampir tak ada satupun orang melakukan itu. Ketika orang Bugis dan Makasar membeli sirih, itu dilakukan untuk persyaratan ritual perkawinan dan bukan dikonsumsi.

Di Jawa, Bali, dan Sumatra, laiknya dampak kolonialisme, bicara dampak “modernisasi” tampaknya berlangsung secara lebih gradual. Sejak 1903, hanya sedikit bupati Jawa yang nyirih, meskipun piranti peralatan nyirih masih dibawa-bawa dalam acara formal dan ritual adat.

Selain aspek pendidikan, di sini penting juga disebutkan fesyen sebagai faktor penyebab hilangnya tradisi nyirih.

Di sepanjang abad ke 19 – 20, konsumsi rokok dicitrakan sebagai bagian dari moderenitas. Sedangkan nyirih semakin terlihat sebagai perilaku yang jorok dan tidak higinies.

Ya, suka atau tidak suka, konsumsi rokok ialah salah satu faktor penting yang berdampak menggeser kebiasaan nyirih dalam perilaku sosial masyarakat di Indonesia.

Suka atau tidak suka juga kini tradisi nyirih hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, atau sebutlah masyarakat adat, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara intensif.

Dari tradisi nyirih ini, hikmah yang dapat disimak ialah pelajaran perjalanan proses keterputusan dan sekaligus kesinambungan sebuah tradisi dari masa lalu

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pojok

Tradisi Aji Ugi, Pergumulan Islam & Budaya yang Jadi Kebanggan Orang Bugis

Published

on

Aji Ugi

Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda. Tetapi dalam masyarakat Bugis, haji bukan semata-mata praktik ibadah dan ritual untuk memenuhi rukun Islam yang kelima.

Haji juga terkait dengan ritual lokal, penanda status sosial, bahkan juga kini menjadi bagian dari gaya hidup. Penelitian dengan metode kualitatif di salah satu daerah Bugis, yaitu di Segeri kabupaten Pangkajene Kepulauan, menemukan corak haji orang-orang Bugis yang telah mengalami perjumpaan antara ajaran Islam, tradisi lokal dan modernitas.


Perjumpaan ini melahirkan corak haji yang unik, sebab diekspresikan dengan cara-cara lokal di satu sisi, sekaligus dipengaruhi modernitas di sisi yang lain. Dalam ekspresi semacam itulah ditemukan praktik yang disebut Haji Bawakaraeng, Haji Calabai (Haji Waria) dan Haji Pa’gaya (Haji yang suka bergaya).

Baca Juga:

  1. Diperiksa Kasus ‘Stupa Jokowi’, Roy Suryo Penuhi Panggilan Polda Metro
  2. Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina
  3. Pesan Menyentuh Sri Mulyani Kepada PNS yang Dapat Gaji ke-13 1 Juni 2022

Tetapi di saat yang sama juga ditemukan Haji yang sarat dengan nuansa hikmah, misalnya haji sebagai were na pammase (Haji sebagai takdir dan Rahmat Tuhan) dan haji sebagai assenu-senungeng (ritual haji adalah simbol pengharapan terhadap hal yang baik).

Keseluruhan praktik haji semacam itu mencerminkan sebuah praktik keberislaman ala Bugis, yang disebut dengan “Aji Ugi”. Aji Ugi ini menjadi semacam ekspresi Islam lokal yang sekaligus universal, Islam tradisional sekaligus modern.

Bagi sebagian besar orang Bugis, naik haji merupakan peristiwa yang sangat penting. Banyak suku lain yang kadang heran melihat antusias orang Bugis untuk naik haji. Bagi orang Bugis, pergi haji adalah sebuah kebanggaan.

Faktanya sangat jelas, di kawasan Sulawesi Selatan dan wilayah lain di sekitarnya seperti Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah antrian pergi haji sudah sangat panjang dan kerap kali disebut tidak masuk akal.

Misalnya saja di Kota Parepare dan Kota Makassar daftar tunggu haji menjadi 84 tahun. Bahkan di Kabupaten Banteng, daftarnya tunggunya bisa mencapai 97 tahun. Tentunya ini sempat membuat geger masyarakat.

Namun bagi orang Bugis, lamanya masa menunggu itu bukanlah suatu hambatan. Pergi haji memang bukan saja sebagai perjalanan spiritual sebagai umat Islam. Beberapa dari mereka menganggapnya sebagai kehormatan.

Masyarakat Bugis sangat kental dengan upacara sosial, seperti kelahiran, pernikahan dan kematian. Bahkan dalam membangun rumah baru dan punya kendaraan baru, mereka kerap pula dirayakan.

Demikian pula ketika naik haji, bagi sebagian besar orang Bugis, naik haji merupakan peristiwa sakral yang mesti ada ritualnya. Walau harus menambah biaya, tentunya hal ini tidak boleh dilewatkan bagi orang Bugis.

Aji Ugi

Ada tiga tahapan ritual (calon) jamaah haji bagi orang Bugis, yaitu ritual persiapan pemberangkatan, ritual selama jamaah haji berada di Tanah Suci, dan ritual setelah jamaah haji pulang ke tanah air.

Misalnya saat persiapan pemberangkatan mereka akan menggelar ritual selamatan atau syukuran (massalama-mammanasik), mengisi tas (mallises tase), dan ritual pemberangkatan (mappangnguju)

ketika sudah sampai di Tanah Suci, orang Bugis akan menampung air dari talang emas (jampi ulaweng), memburu kiswa Ka’bah, mencium Hajar Aswad, dan pemasangan kopiah atau kerudung haji (mappatopo).

Sementara pada tahap terakhir, saat pulang ke Tanah Air akan digelar syukuran (assalama sukkuru), melepas nazar (assalama tinja), mendoakan leluhur yang dilanjutkan ziarah makam (mappigau to riolo).

Continue Reading

Sosial-Budaya

Kemendikbud Pastikan Reog Ponorogo Dikenal Dunia Milik Indonesia

Published

on

By

Reog Ponorogo

Dalam sepekan belakangan, Reog Ponorogo menjadi buah bibir pembicaraan masyarakat Indonesia karena hendak diklaim oleh Malaysia. Pemerintah pun bergerak cepat untuk mendaftarkan Reog Ponorogo ke UNESCO.

Menanggapi polemik ini, Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) berjanji akan mengupayakan agar Reog Ponorogo mendapat status warisan budaya asal Indonesia di mata internasional.

“Kami terus mengupayakan agar elemen budaya Indonesia tidak hanya mendapatkan status di tingkat Internasional. Namun, yang terpenting adalah agar masyarakat Indonesia turut memberikan perhatian dan ikut melestarikan,” kata Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid.

Baca Juga:

  1. Gua Gong, Primadona Pacitan Pemilik Danau dan Ruang Misterius
  2. Taman Nasional Lorentz, Pesona Papua dari Danau di Atas Awan Hingga Rumah Para Satwa
  3. Ikhtiar Revitalisasi Taman Nusa Bali untuk Bangkitkan Pariwisata dari Tidur Panjang

Hilmar mengaku sudah menominasikan empat elemen budaya Indonesia untuk diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) ke UNESCO. Salah satunya adalah kesenian Reog Ponorogo asal Jawa Timur.

Hilmar lalu menjelaskan bahwa Konvensi WBTb UNESCO bertujuan untuk melestarikan WBTb sesuai dengan kesepakatan internasional. Bukan untuk mengabulkan klaim kepemilikan budaya oleh suatu negara.

Selain itu, UNESCO juga tidak bisa menjamin semua elemen budaya yang dinominasikan oleh setiap negara akan lolos WBTb UNESCO. Sebab, kata dia, sumber daya di UNESCO terbatas.

Menurutnya, suatu negara hanya bisa mengusulkan satu nominasi per dua tahun untuk menginskripsikan elemen budayanya sebagai WBTb Unesco.

“Sejak tahun 2016, Komite WBTb UNESCO mengatur batasan jumlah elemen budaya yang dapat diinskripsi sebagai WBTb UNESCO, yaitu 50 elemen budaya saja per tahun dari 193 Negara Anggota UNESCO,” ujarnya.

Continue Reading

Pojok

Polemik Bahasa Melayu Jadi Bahasa Resmi ASEAN, Harusnya Sudah Tidak Kaget Lagi

Published

on

By

ilustrasi komunikasi

Bahasa Indonesia yang saat ini digunakan sebagai bahasa resmi di Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Sejatinya, bahasa Melayu yang digunakan merupakan bagian dari bahasa Melayu rumpun tua yang sampai sekarang masih kita selidiki sebagai peninggalan masa lampau.

Diketahui, para ahli telah melakukan penelitian yang menemukan hasil bahwa bahasa dari rumpun Austronesia memiliki hubungan kekerabatan dengan berbagai bahasa yang dipergunakan di daratan Asia Tenggara.

Polemik bahasa Indonesia atau bahasa Melayu yang digunakan di ASEAN bukan hal yang baru. Sebab, sejak dulu kala bahsa Indonesia atau Melayu sudah dikenal oleh penduduk daerah yang bahasa sehari-harinya bukan bahasa Melayu. Bahasa Melayu juga diketahui sebagai bahasa penghubung di beberapa negara Asia Tenggara.

Hal tersebut dibuktikan oleh adanya beberapa prasasti yang ditemukan di daerah-daerah yang bahasa sehari-hari penduduknya bukan bahasa Indonesia atau Melayu. Tentu saja ada juga ditemukan di daerah yang bahasa sehari-hari penduduknya sudah menggunakan bahasa Indonesia atau Melayu.

Sejarah perkembangan bahasa ini dapat dibuktikan dengan adanya prasasti Kedukan Bukit (683 M), Talang Tuo (684 M), Kota Kapur (686 M), Karah Barahi (686 M).

Ketika bangsa Eropa pertama kali datang ke Indonesia, bahasa Melayu sudah mempunyai kedudukan yang luar biasa di tengah-tengah berbagai bahasa daerah di Nusantara ini. Pigafetta yang mengikuti perjalanan Magelhaen mengelilingi dunia, ketika kapalnya berlabuh di Tidore pada tahun 1521 menuliskan kata-kata Melayu.

Itu merupakan bukti yang jelas bahwa bahasa Melayu yang berasal dari bagian barat Indonesia pada zaman itu pun sudah menyebar sampai ke bagian Indonesia yang berada jauh di sebelah timur.

Pada tanggal 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa persatuan atau bahasa nasional. Nama bahasa Indonesia tersebut sifatnya adalah politis, karena setuju dengan nama negara yang diidam-idamkan yaitu Bangsa Indonesia.

Baca Juga:

  1. Warga Negeri Jiran Ikutan Komentar, Ini Arti Nusantara dalam Bahasa Melayu
  2. Sejarah Kayu Cendana, Primadona Aroma Segala Aroma
  3. Inilah 5 Kota Tertua di Indonesia

Sifat politik ditimbulkan karena keinginan agar bangsa Indonesia mempunyai semangat juang bersama-sama dalam memperoleh kemerdekaan agar lebih merasa terikat dalam satu ikatan: Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa.

Pada ketiga ikrar tersebut terdapat perbedaan ikrar antara ikrar ketiga dengan ikrar pertama dan kedua yaitu pada kata mengaku dan menjunjung.

Ikrar pertama dan kedua menyatakan ”mengaku bertumpah darah yang satu dan mengaku berbangsa yang satu”. Artinya, tanah air dan bangsa kami hanya satu yaitu Indonesia. Berbeda dengan ”menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.

Ikrar ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan dalam mempersatukan bangsa Indonesia. Tidak berarti bahwa, bahasa daerah dihapuskan. Bahasa daerah tetap harus dijaga dan dilestarikan sebagai kekayaan budaya bangsa.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan diartikan sebagai bahasa yang digunakan di dalam kegiatan berkomunikasi yang melibatkan banyak tokoh atau masyarakat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Itulah sebabnya bahasa Indonesia memiliki fungsi dan kedudukan sebagai bahasa persatuan.

Apa sebab justru bahasa melayu yang dijadikan bahasa nasional? Mengapa bukan bahasa Jawa atau bahasa Sunda yang jumlah pemakaiannya meliputi hampir seluruh penduduk Indonesia. Juga bahasa yang kesusastraannya sudah maju dibandingkan dengan bahasa Melayu dan bahasa-bahasa daerah lainnya?

Prof. Dr. Slamet mulyana mengemukakan faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.

Yakni yang pertama ialah bahasa Melayu merupakan lingua franca di Indonesia yang merupakan bahasa perhubungan atau bahasa perdagangan.

Dengan bantuan para pedagang, bahasa Melayu disebarkan ke seluruh pantai Nusantara terutama di kota-kota pelabuhan. Bahasa Melayu menjadi bahasa penghubung antara individu.

Yang kedua, bahasa Melayu memiliki sistem yang mudah dipelajari dan sistemnya sederhana. Tidak ada tingkatan bahasa dalam bahasa Melayu seperti bahasa daerah lain di Indonesia.

Sementara itu, Prof. Soedjito menjelaskan secara sederhana alasan mengapa bahasa Melayu yang dijadikan landasan lahirnya bahasa Indonesia. Yang pertama yakni yang pertama sama dengan pernyataan dari Slamet Mulyana.

Yang kedua, bahasa Melayu memiliki daerah persebaran yang paling luas dan melampaui batas-batas wilayah bahasa lain meskipun penutur aslinya tidak sebanyak penutur asli bahasa Jawa, Sunda, Madura, ataupun bahasa daerah lainnya.

Yang ketiga, bahasa Melayu masih berkerabat dengan bahasa-bahasa Nusantara lainnya sehingga tidak dianggap sebagai bahasa asing.

Dan yang keempat, bahasa melayu mampu mengatasi perbedaan-perbedaan bahasa antarpenutur yang berasal dari berbagai daerah.

Dipilihnya bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan tidak menimbulkan perasaan kalah terhadap golongan yang lebih kuat dan tidak ada persaingan antar bahasa daerah.

Lahirnya Bahasa Tidak Jatuh dari Langit

Pada zaman Belanda ketika Dewan Rakyat dibentuk, yakni pada 18 Mei 1918 bahasa Melayu memperoleh pengakuan sebagai bahasa resmi kedua di samping bahasa Belanda yang berkedudukan sebagai bahasa resmi pertama di dalam sidang Dewan rakyat. Sayangnya, anggota bumiputra tidak banyak yang memanfaatkannya.

Masalah bahasa resmi muncul lagi dalam Kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo pada tahun 1938. Pada kongres itu ada dua hal hasil keputusan penting yaitu bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi dan bahasa pengantar dalam badan-badan perwakilan dan perundang-undangan.

Demikianlah ”lahir” nya bahasa Indonesia bukan sebagai sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit, tetapi melalui perjuangan panjang disertai keinsafan, kebulatan tekad, dan semangat untuk bersatu. Api perjuangan itu berkobar terus untuk mencapai Indonesia merdeka yang sebelum itu harus berjuang melawan penjajah.

Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia dan Jepang tidak dapat menggunakan bahasa lain selain bahasanya sendiri. Bahasa Belanda jatuh dari kedudukannya sebagai bahasa resmi. Bahkan, dilarang untuk digunakan.

Jepang mengajarkan bahasa Jepang kepada orang Indonesia dan bermaksud menggunakan bahasa Jepang sebagai pengganti bahasa Belanda untuk digunakan oleh orang Indonesia.

Akan tetapi, usaha itu tidak dapat dilakukan secara cepat seperti waktu dia menduduki Indonesia.

Oleh karena itu, untuk sementara Jepang memilih jalan yang praktis yaitu memakai Indonesia yang sudah tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.

Satu hal yang perlu dicatat bahwa selama zaman pendudukan Jepang 1942-1945 bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di semua tingkat pendidikan.

Demikianlah, Jepang terpaksa harus menumbuhkan dan mengembangkan bahasa Indonesia secepat-cepatnya agar pemerintahannya dapat berjalan dengan lancar.

Bagi orang Indonesia hal itu merupakan keuntungan besar terutama bagi para pemimpin pergerakan kemerdekaan. Dalam waktu yang pendek dan mendesak mereka harus beralih dari bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia.

Selain itu, semua pegawai negeri dan masyarakat luas yang belum paham akan bahasa Indonesia, secara cepat dapat memahami bahasa Indonesia.

Waktu Jepang menyerah, tampak bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan makin kuat kedudukannya. Berkaitan dengan hal di atas, semua peristiwa tersebut menyadarkan kita tentang arti bahasa nasional.

Bahasa nasional identik dengan bahasa nasional yang didasari oleh nasionalisme, tekad, dan semangat kebangsaan. Bahasa nasional dapat terjadi meskipun eksistensi negara secara formal belum terwujud. Sejarah bahasa Indonesia berjalan terus seiring dengan sejarah bangsa pemiliknya.

Continue Reading

LATEST NEWS

CityView2 minggu ago

Demi Bangun IKN Nusantara, Kementerian PUPR Kirim 25 Orang ke Korsel Belajar Smart City

Kementerian PUPR mengirim 25 orang untuk belajar smart city concept untuk diterapkan di IKN Nusantara ke Korea Selatan. Negara ini...

Kesehatan-Kecantikan3 minggu ago

Asam Jawa, Tanaman Pengundang Makhluk Halus yang Jadi Obat Tradisional Indonesia

Meskipun disebut dengan nama asam Jawa, pohon asam Jawa (Tamarindus indica) aslinya berasal dari benua Afrika. Orang-orang India mengembangkannya karena...

Hangout4 minggu ago

Sudah Ada Sejak Puluhan Tahun, Inilah 6 Tempat Makan Legendaris di Cikini

Cikini terletak di pusat kota Jakarta. Selain menjadi wilayah yang memiliki banyak sejarah, Cikini juga memiliki banyak tempat kuliner. Bahkan...

Traveling4 minggu ago

Pesona Teluk Kabui Raja Ampat yang Punya Gua Hantu Rumah Gurita Raksasa

Membicarakan Kepulauan Raja Ampat nampaknya tidak akan pernah ada habis-habisnya. Pemandangan yang luar biasa, cerita adat masyarakat setempat, bahkan pengalaman-pengalaman...

Properti1 bulan ago

Jadi Buruan Masyarakat Indonesia Selama Pandemi Covid-19, Ini Pengertian Hunian Private Cluster

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan khususnya untuk mengantisipasi situasi pandemi. Perumahan mini real estat dengan jumlah unit terbatas lebih mudah...

Lifestyle1 bulan ago

Mengulas Aeroponik, Teknik Bercocok Tanam di Udara yang Cocok untuk Masyarakat Perkotaan Indonesia

Setelah akrab dengan sistem hidroponik, kini muncul sistem tanam aeroponik. Kedua sistem ini sama-sama menggunakan media air. Bedanya, aeroponik menyemprotkan...

Traveling1 bulan ago

Ramah untuk Wisatawan Muslim, Ini 4 Alasan Orang Indonesia Wajib Liburan ke Turki

Tempat wisata ramah muslim memiliki peluang menggiurkan saat ini. Sebab itulah beberapa negara sangat gencar menawarkan wisata jenis ini. Turki...

Pojok1 bulan ago

Tradisi Aji Ugi, Pergumulan Islam & Budaya yang Jadi Kebanggan Orang Bugis

Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda....

Infrastruktur1 bulan ago

Begini Rumitnya Konstruksi Tol Semarang-Demak, yang Sekaligus Tanggul Laut

Jalan tol Semarang-Demak dibangun dengan konstruksi khusus beberapa lapis di atas laut untuk juga menjadi tanggul laut sebagai antisipasi banjir...

Properti1 bulan ago

Kota Mandiri Terus Bermunculan di Kawasan Penyangga DKI Jakarta

Pengembangan kota mandiri atau township di berbagai wilayah penyangga Jakarta terus berkembang. Beberapa hal yang menjadi pendorong yaitu perkembangan infrastruktur,...

Histori1 bulan ago

Asal-muasal Nama Depok, Tempat Pertapaan Prabu Siliwangi yang Kini Jadi Penyangga Ibu Kota

Selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kota Depok juga merupakan wilayah penyangga...

Traveling1 bulan ago

Pulau Asu, The Paradise on Earth Asli Indonesia

Pulau Asu adalah pulau terpencil dalam Kepulauan Hinako dan merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau Asu berada di wilayah...

Internasional1 bulan ago

Rusia Dinilai Sudah Menang Lawan Ukraina, Ini Buktinya

Pengamat militer dari lembaga think tank RUSI (Royal United Services Institute) di London, Inggris, Neil Melvin, menilai bahwa Rusia sudah...

Internasional1 bulan ago

Putin Minta Militer Rusia Terus Gempur Ukraina

Usai melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu pada Senin (4/7/2022) waktu setempat, Presiden Rusia Vladimir Putin meminta pasukannya...

Bisnis1 bulan ago

Tinggal Selangkah Lagi Jadi Unicorn, Startup Fesyen Zilingo Kini Terancam Bangkrut

Meskipun dua pendirinya Dhruv Kapoor dan Ankiti Bose memilih berdamai demi menyelamatkan perusahaan, namun, nasi startup fesyen business-to-business Zilingo saat...

Internasional1 bulan ago

Pemerintah Rusia Konfirmasi Zelensky Titip Pesan Khusus ke Putin Lewat Jokowi

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ternyata menitipkan pesan khusus kepada Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), untuk disampaikan ke Presiden...

Properti1 bulan ago

Inilah Standar Rumah Sehat Sesuai SNI

Pandemi Covid-19 yang kita jalani sejak awal tahun 2020 telah mengubah lifestyle hingga konsep rumah. Penerapan rumah yang sehat mutlak...

Infrastruktur1 bulan ago

Mantap, Tol Trans Sumatera Dapat Suntikan Dana Rp2,9 Triliun

BUMN SMI memberikan pinjaman investasi untuk proyek tol Trans Sumatera ruas Kayu Agung-Palembang-Betung (Kapal Betung) yang dikerjakan WST senilai Rp2,9...

Nasional1 bulan ago

Beli Minyak Goreng Curah Pakai Aplikasi PeduliLindungi Diperpanjang Hingga 3 Bulan

Pemerintah berupaya untuk menemukan keseimbangan terkait pengendalian minyak goreng dari sisi hulu hingga hilir. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang...

COVID-19Update1 bulan ago

Korea Utara Sebut Benda Alien di Perbatasan Korsel Sebagai Penyebab Pandemi Covid-19

Korea Utara mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait pandemi Covid-19. Mereka menyatakan wabah Covid-19 di negara mereka dimulai dari pasien yang menyentuh...

Internasional1 bulan ago

Serangan Dilakukan Acak, Wanita di AS Ditembak di Kepala saat Dorong Bayi

Sampai kini masih terus terjadi kasus penembakan maut di Amerika Serikat (AS). Bahkan, baru-baru ini kasus tersebut kembali terjadi hingga...

Trending