Connect with us

CityView

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Published

on

Desa Bubakan

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata tukang bakso, membuat profesi itu beberapa hari kebelakangan ini menjadi perbincangan hangat di meda sosial.

“Jadi ketika saya mau punya mantu nih, saya sudah bilang sama anak saya tiga (orang), awas loh kalau nyarinya yang kayak tukang bakso,” ungkap Megawati dalam pidatonya itu.

Hal ini pun langsung menimbulkan beragam reaksi dari para warganet. Mereka geram karena Megawati dianggap tidak simpati dalam melontarkan pernyataannya itu. Sementara itu, ada juga yang menilai itu hanya sebuah gurauan dan tidak mempermasalahkannya.

Berbicara mengenai tukang bakso, diketahui daerah penghasil bakso yang paling populer di Indonesia adalah Wonogiri. Jika kalian berkunjung ke desa Bubakan, Wonogiri akan dapat menyaksikkan kesuksesan para tukang bakso tersebut.

Baca Juga:

  1. Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi Melalui Cagar Buah Condet
  2. Asal-usul Senayan, Tempat Adu Ketangkasan Berkuda yang Kini Jadi Jantung Jakarta
  3. Asal-usul Nama Ancol & Awal Mula Berdirinya di Indonesia

Sebab daerah itu merupakan kampung para tukang bakso wonogiri yang mencari rezeki di tanah rantau. Desa Bubakan pun saat ini dipenuhi dengan rumah mewah layaknya villa yang begitu megah.

Dibandingkan dengan kampung lainnya, kampung ini memang tampil lebih mencolok, seperti yang dimuat dari Tribun Solo. Di mana kalian bakal menemui rumah mewah dengan dua lantai di desa yang keberadaannya cukup pelosok itu.

Rumah mewah ini dapat menjadi bukti betapa suksesnya warga Bubakan di tanah perantauan dalam menjual bakso. Sekretaris Desa Bubakan, Suparto pun membenarkan 70 persen warganya merupakan perantauan.

“Penduduk Desa Bubakan ada sekitar 5 ribu orang, yang tersebar di 10 dusun. Dan mayoritas mereka adalah perantauan,” tuturnya.

Tak ayal jika rumah-rumah megah yang berdiri di desa itu nampak kosong. Hal ini dikarenakan pemiliknya yang meninggalkan rumah tersebut untuk merantau ke kota lain. Mereka biasanya hanya kembali ke desa untuk meronvasi rumah saja, setelah itu kembali lagi mencari nafkah dengan berjualan bakso di tanah rantau.

Di sisi lain, desa ini sebenarnya pada zaman dahulu merupakan desa yang tertinggal. Namun, seorang pengusaha asal Sukoharjo bernama Mbah Joyo mengajak warga desa untuk merantau pada tahun 1980 an. Hingga akhirnya mereka belajar membuat bakso dan jamu yang kemudian mendirikan usaha mereka sendiri-sendiri.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CityView

Demi Bangun IKN Nusantara, Kementerian PUPR Kirim 25 Orang ke Korsel Belajar Smart City

Published

on

IKN Nusantara

Kementerian PUPR mengirim 25 orang untuk belajar smart city concept untuk diterapkan di IKN Nusantara ke Korea Selatan. Negara ini dipilih karena dianggap sukses dengan program pemindahan ibukota barunya yang menerapkan banyak konsep smart city.

Pemerintah terus mematangkan berbagai rencana, konsep, hingga berbagai hal teknis terkait pengembangan ibukota negara (IKN) Nusantara. Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Diana Kusumastuti, Kementerian PUPR akan menjadi institusi tumpuan awal pembangunan IKN dan karena itu banyak hal yang hasur dipersiapkan khususnya terkait SDM yang andal dan kompeten.

“Dibutuhkan banyak SDM yang bukan hanya andal tapi berintegritas dalam pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan IKN Nusantara dan itu menjadi agenda yang wajib dilakukan. Untuk itu kami melakukan terobosan dengan menyiapkan dan mengirim insan Kementerian PUPR untuk belajar pengembangan IKN ke Korea Selatan,” ujarnya.

Baca Juga:

  1. Begini Upaya Pemerintah Atasi PMK pada Hewan Ternak Jelang Idul Adha
  2. 5 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia
  3. 5 Cara Menenangkan Hati yang Gelisah Menurut Islam

Korea Selatan dipilih karena termasuk negara yang berhasil dan mumpuni dalam membangun ibukota baru. Sharing pengalaman ini dibutuhkan untuk pengembangan IKN khususnya untuk penerapan lima teknologi baru yang telah sukses dilaksanakan di Korea Selatan.

Pelatihan awak Kementerian PUPR ini juga merupakan kerja sama teknis antara Kementerian PUPR dengan Ministry of Land, Infrastructure and Transport (MOLIT) Korea Selatan dalam rangka meningkatkan kapasitas pegawai Kementerian PUPR sebagai pelaksana pembangunan IKN. Pelatihan ini diikuti oleh 25 orang awak Kementerian PUPR yang akan berlangsung hingga akhir Agustus 2022.

Ke-25 orang ini dipilih dari 94 orang yang diusulkan dari delapan unit organisasi di Kementerian PUPR. Para peserta pelatihan ini terdiri dari 15 orang dengan latar pendidikan teknis dan 10 orang dengan latar pendidikan non teknis sehingga ada kolaborasi antara teknis dan non teknis dalam pengembangan IKN Nusantara.

“Pelatihan ini juga bukan pelatihan biasa. Peserta sudah harus memiliki dasar pengetahuan yang baik tentang smart city concept yang pro-IKN. Satuan Tugas (Satgas) IKN juga diharapkan dapat mengawal pelatihan ini dan mendampingi peserta agar konsep smart city IKN ini dapat terwujud di Indonesia,” imbuhnya.

Continue Reading

CityView

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Published

on

ilustrasi gangster

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa kebosanan dengan berjalan-jalan di malam hari dengan teman-teman, saat ini klitih dimaknai sebagai tindakan atau aksi kriminal yang dilakukan oleh para remaja.

Fenomena ini cukup mirip dengan tawuran ataupun aksi begal, yang memakan korban. Begitupula dengan pelakunya, cukup mirip dengan pelaku aksi tawuran maupun begal, yaitu pelajar SMP-SMA.

Para pelaku juga biasanya melakukan klitih atau nglitih secara berkelompok, tidak ada yang melakukannya sendirian. Hal ini yang mendorong mereka untuk melakukan aksi-aksi yang lebih ekstrim seperti melukai orang.

Dalam tahapan perkembangan, masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri serta pembentukan citra diri.

Biasanya mereka akan mencari kelompok-kelompok tertentu yang sesuai dengan minat mereka atau kelompok yang mereka anggap sebagai citra ideal bagi remaja untuk mendapatkan pengakuan.

Jika mereka mendapatkan pengakuan dari teman-teman kelompoknya, maka secara bertahap akan membentuk identitas dan citra mereka.

Hal ini akan membentuk perasaan diterima dalam sebuah kelompok (in-group) yang akan berpengaruh pada pembentukan citra diri.

Sebaliknya jika tidak mendapatkan pengakuan tersebut, mereka akan teralienasi dari kelompok remaja yang mereka anggap ideal (out-group) dan akan berdampak negatif pada pembentukan citra diri.

Dalam kelompok klitih, para remaja ini saling “mendorong” teman-teman kelompoknya untuk mendapatkan pengakuan tersebut.

Fenomena ini juga dapat dilihat dari bagaimana maskulinitas yang selalu disalahartikan sebagai citra ideal laki-laki.

Baca Juga:

  1. Reorganisasi dan Pembangunan Pasar Senen: Upaya Menata Ruang Kota Jakarta
  2. Sabung Ayam: Kebiasaan Aneh Mengadu Ayam ala Indonesia
  3. Menikmati Harmoni Jogja dengan Bersepeda

Masih banyak yang beranggapan bahwa citra masukulin laki-laki identik dengan kekerasan. Jika ingin menyelesaikan masalah antar laki-laki, sering disebut dengan “kita selesaikan secara laki-laki”.

Padahal sebenarnya tidak semua laki-laki memilih menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan tidak semua laki-laki menginginkan penyelesaikan masalah dengan cara kekerasan.

Jika dikaitkan dengan bagaimana para remaja sedang dalam proses pembentukkan citra diri, masing-masing dari mereka pun berusaha untuk membentuk citra ideal maskulinitas yang masih disalahartikan tersebut.

Kebanyakan dari para pelaku klitih menyebutkan bahwa mereka merasa terdorong untuk mendapatkan pengakuan sebagai sekolah atau kelompok yang paling kuat.

Tentu saja jika pemahaman mengenai maskulinitas masih disalahartikan fenomena ini tidak akan berkurang. Sebab, dorongan atau paksaan dari lingkungan dapat menyebabkan remaja laki-laki ini pada akhirnya mengikuti ajakan kelompok mayoritas kareana ketakutannya ketika nanti menjadi korban rundungan. Mereka yang tidak ikut “nglitih” akan dianggap kurang laki-laki dan akan mengalami perundungan.

Hal ini tentunya dapat berdampak pada citra diri remaja laki-laki tersebut. Selain itu, pada dasarnya banyak juga laki-laki yang tidak bisa menunjukkan citra ideal maskulinitas, sehingga mereka dianggap ‘lemah’ oleh orang lain dan bahkan mereka sendiri merasa tertekan karena ‘gagal’ memenuhi tuntutan ideal tersebut.

Sehingga salah satu cara menunjukkan mereka masih punya ‘power’ atau masih bisa disebut sebagai laki-laki, salah satunya lewat kekerasan ataupun mengikuti perkumpulan yang dinilai memiliki “power” sebagai wujud pembuktian dirinya.

Bagaimana mencegah hal-hal seperti ini terjadi lagi di kemudian hari? Saat ini hukuman yang didapatkan oleh para pelaku klitih pun seolah tidak ada efek jera, karena mereka (pelaku) atau bahkan lingkungan beranggapan perilaku ini merupakan kenakalan remaja pada umumnya.

Padahal sebenarnya fenomena ini perlu dibenahi dari akarnya, yaitu citra maskulinitas yang keliru. Selain itu, pendekatan yang menyeluruh, artinya ikut melibatkan lingkungan keluarga, sekolah, dan juga pemerintah perlu dilakukan.

Hal ini tentu saja untuk membantu pelaku dan juga masyarakat lain lebih memahami mengenai kekerasan itu sendiri dan juga masing-masing dari kita bisa lebih menghargai dan menjaga satu sama lain.

Tentunya dengan menyadari betul apa yang sedang terjadi dan memahami bahwa yang terjadi saat ini bukan hanya seolah kenakalan remaja yang ‘salah gaul’. Kita perlu mulai berefleksi mulai dari diri sendiri. 

Caranya sederhana saja, jika ada teman atau kenalan yang ingin bercerita (baik laki-laki ataupun perempuan), tidak perlu kita berkomentar negatif dan menisyaratkan bahwa bercerita merupakan tanda kelemahan yang sering kali diindentikkan dengan perempuan.  

Kita bisa mulai menghindari komentar-komentar yang berbau seksis terlebih dahulu lalu menularkan atau menurunkannya ke anak anak kita atau lingkungan kita.

Lalu ikut libatkan laki-laki untuk menurunkan angka kekerasan dan kejadian-kejadian seperti ini. Laki-laki juga merupakan agen perubahan perilaku.

Sehingga dalam hal ini mereka mampu memberikan contoh baik, bagaimana citra maskulin.

Misalnya terlibat dalam pengasuhan anak, berbagi peran dengan istri, bantu pekerjaan domestik ibu di rumah, dan lain-lain.

Continue Reading

CityView

Negeri Surga Rempah-Rempah, Ini Sederet Rempah Indonesia yang Jadi Buruan Dunia

Published

on

By

ilustrasi rempah-rempah

Orang-orang dari benua Eropa terutama Portugis, Spanyol dan Belanda memperebutkan penguasaan tanah atas rempah-rempah Nusantara sepanjang abad ke-16 dan 17.

Pasca menaklukkan pelabuhan perdagangan Malaka pada tahun 1511, Portugis yang dipimpin oleh Francisco Serrao bertolak menuju pusat produksi rempah-rempah Nusantara, yakni Maluku.

Kedatangan bangsa Portugis di tanah Maluku menarik simpati Abu Lais, Sultan Ternate yang menawarkan kerja sama berupa pendirian benteng di Ternate dengan produksi cengkeh yang sepenuhnya bakal dijual untuk Portugis. Melihat peluang emas tersebut, tentu Portugis menyepakati kerjasama dagang yang menguntungkan.

Kerjasama dagang dan ambisi penguasaan rempah inilah yang mengawali periode kolonialisasi di Indonesia.

Rempah-rempah memang menjadi salah satu komoditas unggulan untuk diekspor ke luar negara. Yakni negara-negara Eropa dan Amerika, bahkan sampai sekarang.

Berdasarkan data yang dirilis Food and Agriculture Organization (FAO), pada 2016 Indonesia menempati posisi keempat terbesar di dunia sebagai negara penghasil rempah-rempah dengan total produksi 113.649 ton serta total eskpornya mencapai USD652,3 juta.

Keragaman jenis rempah-rempah khas Nusantara menyokong besarnya nilai ekspor tersebut. Rempah-rempah juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari penggalan perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Dari data Negeri Rempah Foundation, ada sekitar 400-500 spesies rempah di dunia, 275 di antaranya ada di Asia Tenggara dan Indonesia menjadi yang paling dominan. Kekayaan rempah itulah yang membuat Indonesia dijuluki sebagai Mother of Spices.

Indonesia memiliki beberapa daerah sumber rempah-rempah. Diantaranya yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Maluku, Papua, NTT, Sulawesi Selatan, Riau, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan dan Yogyakarta.

Indonesia memiliki peluang besar sebagai pemasok rempah dunia yang bisa memberikan kontribusi besar bagi perekonomian negeri, ini disebabkan dari keragaman jenis dan wilayah penghasil rempah-rempah.

Baca Juga:

  1. Prometheus yang Hijrah ke Jawa Pada Abad Ke-19
  2. Sejarah Lada, Sang Raja Rempah-Rempah Indonesia
  3. Mengenal Mohibadaa, Tradisi Unik Lumuri Wajah dengan Rempah untuk Sambut Ramadan

Kesempatan sebagai pemasok rempah dunia semakin besar apalagi, nilai impor (permintaan) dunia terhadap rempah-rempah setiap tahunnya mengalami kenaikan sebesar 7,2% dengan nilai mencapai USD10,1 miliar.

Setidaknya ada tujuh jenis rempah yang menjanjikan, yakni lada, pala, jahe, cengkeh, kunyit, kayu manis, dan vanili.

Lada

Tanaman bernama latin Piper Nigrum Linn ini dipercaya berasal dari daerah Ghat Barat, India. Menurut catatan Sejarawan, koloni Hindu yang bermigrasi ke Jawa pada tahun 110 – 600 SM turut membawa bibit lada untuk ditanam di tanah yang baru.

Di Indonesia, lada banyak tersebar di daerah Jambi, Aceh, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan Yogyakarta. Persebaran lada cukup banyak di Indonesia dan cocok dengan iklimnya yang tropis.

Lada menjadi komoditas rempah utama Indonesia dengan nilai ekspor mencapai USD143,6 juta atau sekitar Rp1,9 triliun.

Pala

Pala banyak tersebar di wilayah luar Jawa seperti Maluku, Bengkulu, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara dan Papua. Selain kegunaannya sebagai rempah-rempah, Pala juga menjadi komoditas penghasil minyak atsiri. Pala juga merupakan tanaman khas Maluku dan Banda. Semasa kolonialisme, Pala banyak diburu oleh para kompeni.

Nilai ekspor Pala ada di urutan ketiga dengan nilai mencapai USD44,1 juta.

Jahe

SIfat jahe itu khas. Pedas-pedas hangat. Tak ayal, karena keunikannya ini, jahe menjadi salah satu komoditas rempah unggulan Indonesia. Jahe memiliki banyak khasiat. Baik untuk masakan, maupun bahan obat-oabatan. Nilai ekspor jahe mencapai USD2,6 juta.

Cengkeh

Semasa ekspansi Portugis ke Maluku, cengkeh menjadi rempah yang paling populer dan mahal, terutama di Eropa. Harga cengkeh sama dengan harga sebatang emas. Rempah ini merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari Kepulauan Maluku yakni Ternate dan Tidore.

Di Indonesia, cengkeh tersebar di daerah Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, NTT, Papua, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan, dan Yogyakarta. Nilai ekspor cengkeh mencapai nilai USD11,3 juta.

Kunyit

Kunyit memiliki sejarah sebagai tanaman obat. Namun, kunyit juga bisa digunakan sebagai rempah-rempah penyedap masakan. Di Asia Tenggara, kunyit tidak hanya digunakan sebagai bumbu utama saja. Akan tetapi juga digunakan sebagai komponen upacara religius.

Nilai ekspor kunyit mencapai USD3,5 juta. 

Kayu Manis

Kayu Manis biasa digunakan sebagai pelengkap pada kue atau minuman, sebab dia memiliki aroma yang harum serta rasa manis yang khas dan tidak eneg. Tak hanya sebagai pelengkap ‘yang manis-manis’, kayu manis juga memiliki manfaat bagi kesehatan.

Daerah persebarannya banyak terdapat di Jambi, Sumatra Barat, dan Yogyakarta. Kayu manis memiliki nilai ekspor yang berada di urutan kedua di bawah lada dengan nilai USD44,8 juta.

Vanili

Seperti kayu manis, vanili juga akrab digunakan sebagai pelengkap kue bagi para ibu-ibu yang ingin membuat kue agar tidak amis.

Sebetulnya rempah ini bukan tanaman khas Indonesia, namun berasal dari Meksiko.

Akan tetapi, di Indonesia sudah banyak dibudidayakan terutama di daerah Jawa Timur, Lampung, NTT, Jawa Tengah, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Harga per pound-nya bisa mencapai USD50-200 atau sekitar Rp700 ribu-3 juta. Nilai ekspor vanili Indonesia mencapai USD30,2 juta.

Continue Reading

LATEST NEWS

CityView2 minggu ago

Demi Bangun IKN Nusantara, Kementerian PUPR Kirim 25 Orang ke Korsel Belajar Smart City

Kementerian PUPR mengirim 25 orang untuk belajar smart city concept untuk diterapkan di IKN Nusantara ke Korea Selatan. Negara ini...

Kesehatan-Kecantikan3 minggu ago

Asam Jawa, Tanaman Pengundang Makhluk Halus yang Jadi Obat Tradisional Indonesia

Meskipun disebut dengan nama asam Jawa, pohon asam Jawa (Tamarindus indica) aslinya berasal dari benua Afrika. Orang-orang India mengembangkannya karena...

Hangout4 minggu ago

Sudah Ada Sejak Puluhan Tahun, Inilah 6 Tempat Makan Legendaris di Cikini

Cikini terletak di pusat kota Jakarta. Selain menjadi wilayah yang memiliki banyak sejarah, Cikini juga memiliki banyak tempat kuliner. Bahkan...

Traveling4 minggu ago

Pesona Teluk Kabui Raja Ampat yang Punya Gua Hantu Rumah Gurita Raksasa

Membicarakan Kepulauan Raja Ampat nampaknya tidak akan pernah ada habis-habisnya. Pemandangan yang luar biasa, cerita adat masyarakat setempat, bahkan pengalaman-pengalaman...

Properti1 bulan ago

Jadi Buruan Masyarakat Indonesia Selama Pandemi Covid-19, Ini Pengertian Hunian Private Cluster

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan khususnya untuk mengantisipasi situasi pandemi. Perumahan mini real estat dengan jumlah unit terbatas lebih mudah...

Lifestyle1 bulan ago

Mengulas Aeroponik, Teknik Bercocok Tanam di Udara yang Cocok untuk Masyarakat Perkotaan Indonesia

Setelah akrab dengan sistem hidroponik, kini muncul sistem tanam aeroponik. Kedua sistem ini sama-sama menggunakan media air. Bedanya, aeroponik menyemprotkan...

Traveling1 bulan ago

Ramah untuk Wisatawan Muslim, Ini 4 Alasan Orang Indonesia Wajib Liburan ke Turki

Tempat wisata ramah muslim memiliki peluang menggiurkan saat ini. Sebab itulah beberapa negara sangat gencar menawarkan wisata jenis ini. Turki...

Pojok1 bulan ago

Tradisi Aji Ugi, Pergumulan Islam & Budaya yang Jadi Kebanggan Orang Bugis

Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda....

Infrastruktur1 bulan ago

Begini Rumitnya Konstruksi Tol Semarang-Demak, yang Sekaligus Tanggul Laut

Jalan tol Semarang-Demak dibangun dengan konstruksi khusus beberapa lapis di atas laut untuk juga menjadi tanggul laut sebagai antisipasi banjir...

Properti1 bulan ago

Kota Mandiri Terus Bermunculan di Kawasan Penyangga DKI Jakarta

Pengembangan kota mandiri atau township di berbagai wilayah penyangga Jakarta terus berkembang. Beberapa hal yang menjadi pendorong yaitu perkembangan infrastruktur,...

Histori1 bulan ago

Asal-muasal Nama Depok, Tempat Pertapaan Prabu Siliwangi yang Kini Jadi Penyangga Ibu Kota

Selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kota Depok juga merupakan wilayah penyangga...

Traveling1 bulan ago

Pulau Asu, The Paradise on Earth Asli Indonesia

Pulau Asu adalah pulau terpencil dalam Kepulauan Hinako dan merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau Asu berada di wilayah...

Internasional1 bulan ago

Rusia Dinilai Sudah Menang Lawan Ukraina, Ini Buktinya

Pengamat militer dari lembaga think tank RUSI (Royal United Services Institute) di London, Inggris, Neil Melvin, menilai bahwa Rusia sudah...

Internasional1 bulan ago

Putin Minta Militer Rusia Terus Gempur Ukraina

Usai melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu pada Senin (4/7/2022) waktu setempat, Presiden Rusia Vladimir Putin meminta pasukannya...

Bisnis1 bulan ago

Tinggal Selangkah Lagi Jadi Unicorn, Startup Fesyen Zilingo Kini Terancam Bangkrut

Meskipun dua pendirinya Dhruv Kapoor dan Ankiti Bose memilih berdamai demi menyelamatkan perusahaan, namun, nasi startup fesyen business-to-business Zilingo saat...

Internasional1 bulan ago

Pemerintah Rusia Konfirmasi Zelensky Titip Pesan Khusus ke Putin Lewat Jokowi

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ternyata menitipkan pesan khusus kepada Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), untuk disampaikan ke Presiden...

Properti1 bulan ago

Inilah Standar Rumah Sehat Sesuai SNI

Pandemi Covid-19 yang kita jalani sejak awal tahun 2020 telah mengubah lifestyle hingga konsep rumah. Penerapan rumah yang sehat mutlak...

Infrastruktur1 bulan ago

Mantap, Tol Trans Sumatera Dapat Suntikan Dana Rp2,9 Triliun

BUMN SMI memberikan pinjaman investasi untuk proyek tol Trans Sumatera ruas Kayu Agung-Palembang-Betung (Kapal Betung) yang dikerjakan WST senilai Rp2,9...

Nasional1 bulan ago

Beli Minyak Goreng Curah Pakai Aplikasi PeduliLindungi Diperpanjang Hingga 3 Bulan

Pemerintah berupaya untuk menemukan keseimbangan terkait pengendalian minyak goreng dari sisi hulu hingga hilir. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang...

COVID-19Update1 bulan ago

Korea Utara Sebut Benda Alien di Perbatasan Korsel Sebagai Penyebab Pandemi Covid-19

Korea Utara mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait pandemi Covid-19. Mereka menyatakan wabah Covid-19 di negara mereka dimulai dari pasien yang menyentuh...

Internasional1 bulan ago

Serangan Dilakukan Acak, Wanita di AS Ditembak di Kepala saat Dorong Bayi

Sampai kini masih terus terjadi kasus penembakan maut di Amerika Serikat (AS). Bahkan, baru-baru ini kasus tersebut kembali terjadi hingga...

Trending